Purna Warta – Sri Lanka, seperti Mesir dan Pakistan, termasuk negara-negara kesulitan berpenghasilan rendah yang dilanda krisis. Para analisis khawatir negara-negara ini telah kembali terjerumus ke dalam masalah, hal ini dikarenakan impor energi yang sangat mereka butuhkan menjadi mahal akibat perang.
Meskipun terjadi gencatan senjata di Teluk minggu ini, Kolombo mengeluarkan kembali subsidi bahan bakar dan menegosiasikan pelonggaran sementara persyaratan bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) demi bisa meringankan krisis meski sedikit. Ada kemungkinan bahwa negara-negara lain akan mencoba melakukan hal yang sama minggu depan di Washington, pada pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia.
IMF siap mendengarkan dan memperkirakan akan memberikan dukungan darurat antara US$20 miliar hingga US$50 miliar karena krisis ini, kata kepala IMF Kristalina Georgieva pada hari Kamis.
Mantan gubernur bank sentral Pakistan, Reza Baqir mengatakan konflik tersebut telah menghantam negara-negara yang sedang kesulitan dari hampir setiap sudut.
Seiring dengan melebarnya defisit transaksi bertambah banyak dan mata uang tertekan minyak, makanan, pupuk dan pembayaran utang dalam denominasi dolar menjadi semakin mahal.
Hal itu kemudian harus ditutupi dengan cadangan devisa, pinjaman lebih lanjut atau dengan memangkas impor lainnya.
Yang dibutuhkan, kata Baqir, adalah “pernyataan yang kredibel dari lembaga-lembaga seperti IMF dan lainnya bahwa mereka siap untuk mendukung negara-negara ini. Dan saya pikir semakin cepat, lebih baik”.
Cadangan devisa Pakistan mencapai US$16,4 miliar secara bruto pada akhir Maret. Jumlah tersebut tidak cukup untuk menutupi impor kebutuhan pokok selama tiga bulan, tetapi JPMorgan mengatakan jumlah tersebut sebenarnya negatif jika kewajiban mata uang asing bank sentral diperhitungkan.
Harga bensin di sana baru saja dinaikkan untuk kedua kalinya dan sekolah-sekolah ditutup selama setengah bulan Maret. Sementara itu, departemen pemerintah hanya bekerja empat hari seminggu — dan sekarang dilarang membeli furnitur atau pendingin udara baru.
Namun, kekhawatiran terbaru Islamabad adalah harus membayar kembali pinjaman US$3,5 miliar dari Uni Emirat Arab. Jika tidak dapat memperpanjangnya, keuangan negara akan semakin tertekan, mengingat adanya program IMF senilai US$7 miliar, kata mantan pejabat IMF Jeff Franks.
“Saya yakin bagi Pakistan dan Mesir, jika mereka bertemu dengan direktur pelaksana atau pejabat tinggi IMF lainnya minggu depan, mereka akan menekankan betapa buruknya guncangan ini bagi stabilitas,” kata Franks.
Seperti di Sri Lanka, kenaikan harga telah membuat penduduk lokal di Pakistan dan tempat lain menjadi tidak senang.
Bagi Mesir, ada juga dampak pada sektor pariwisata, yang biasanya menghasilkan pendapatan US$19 miliar tahun lalu kini semakin berkurang. Belum lagi potensi dampak pada Terusan Suez dan beban utang yang sangat besar yang diperkirakan akan menyerap 60 persen pendapatan tahun ini.
Pembayaran yang jatuh tempo hampir US$30 miliar setara dengan lebih dari setengah cadangan devisa Mesir. Sekitar US$8 miliar uang investor asing telah mengalir keluar sejak perang dimulai, seperti yang dicatat Moody’s pekan lalu
IMF memuji keputusan Kairo untuk membiarkan mata uang bertindak sebagai “peredam guncangan”. Tetapi peningkatan dua kali lipat tagihan impor energi Mesir berarti para ahli di bidang krisis memperkirakan Mesir mungkin akan menjadi salah satu negara yang paling sibuk di Washington minggu depan.


