Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan pemberitan lokal, tentara pendudukan Israel meningkatkan serangan mereka ke desa-desa di sekitar kota Al-Quds yang diduduki. Hanya beberapa jam setelah mundur dari desa Kafr Aqab, pasukan pendudukan kembali menyerbu desa tersebut dan sekaligus mengepung desa Hizma di timur laut Al-Quds.
Tentara pendudukan Israel mengirimkan bala bantuan tambahan ke Kafr Aqab, menempatkan penembak jitu di atap sejumlah rumah warga, serta mulai menghancurkan fasilitas-fasilitas yang berada di dekat tembok pemisah di wilayah tersebut.
Pemerintah Provinsi Al-Quds melaporkan bahwa dalam beberapa jam terakhir, pasukan pendudukan menghancurkan sekitar 40 fasilitas di desa itu, termasuk toko-toko, pusat usaha, kios, papan reklame, dan bangunan logam.
Sumber-sumber lokal Palestina menyatakan bahwa pasukan pendudukan menutup Jalan Bandara dan sejumlah wilayah lain di Kafr Aqab, serta menyerbu rumah-rumah dan bangunan permukiman dengan menembakkan granat kejut. Mereka juga menyebutkan bahwa tentara Israel menangkap sejumlah pemuda Palestina di Jalan Bandara.
Berita Terkait dari Sumber Lain
Dalam laporan terpisah, Palestinian Information Center dan WAFA melaporkan bahwa serbuan-serbuan militer Israel di Tepi Barat meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, terutama di wilayah Jenin, Tulkarem, Nablus, dan Al-Quds Timur. Operasi-operasi tersebut sering kali disertai penggerebekan rumah, penghancuran infrastruktur sipil, serta penangkapan massal warga Palestina.
Sementara itu, Komisi Urusan Tahanan Palestina menyebutkan bahwa ratusan warga Palestina, termasuk anak-anak dan mantan tahanan, telah ditangkap sejak awal tahun ini dalam operasi militer yang digelar hampir setiap hari oleh pasukan pendudukan.
Organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, telah berulang kali memperingatkan bahwa eskalasi serangan di Tepi Barat merupakan bagian dari kebijakan sistematis Israel untuk memperluas kontrol keamanan, menekan perlawanan rakyat Palestina, serta membuka jalan bagi perluasan permukiman ilegal Yahudi.
Para pengamat menilai bahwa peningkatan serbuan dan penghancuran fasilitas sipil ini berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut di Tepi Barat, di tengah memburuknya situasi kemanusiaan dan politik Palestina secara keseluruhan.


