Camberra, Purna Warta – Polisi Sydney menggunakan semprotan merica terhadap para pengunjuk rasa pada Senin, ketika ribuan orang berkumpul di berbagai kota di Australia untuk menentang kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog.
Kunjungan Herzog selama empat hari tersebut digambarkan oleh para pejabat sebagai bentuk solidaritas dengan komunitas Yahudi Australia menyusul penembakan pada Desember lalu di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan 15 orang.
Namun, Herzog menghadapi aksi protes di dua kota terbesar Australia pada Senin malam. Aksi unjuk rasa di Sydney berubah ricuh ketika polisi menggunakan semprotan merica terhadap para demonstran dan jurnalis.
Juru bicara Palestine Action Group, Josh Lees, mengatakan melalui Instagram bahwa polisi telah “berulang kali menyerang kami dengan kuda dan semprotan merica.”
Di Sydney, ribuan orang berkumpul di kawasan pusat bisnis (CBD), mendengarkan pidato-pidato pro-Palestina dan meneriakkan berbagai slogan.
“Pembantaian di Bondi memang mengerikan, tetapi dari kepemimpinan Australia tidak ada pengakuan terhadap rakyat Palestina dan warga Gaza,” kata Jackson Elliott (30), seorang pengunjuk rasa asal Sydney.
“Herzog menghindari semua pertanyaan tentang pendudukan dan mengatakan kunjungan ini soal hubungan Australia–Israel, padahal ia terlibat langsung,” tambah Elliott.
Kerumunan massa juga berkumpul di pusat kota Melbourne untuk menuntut diakhirinya pendudukan Israel atas wilayah Palestina.
Pemerintah negara bagian New South Wales memberlakukan kewenangan baru yang memberikan polisi otoritas lebih besar untuk mengendalikan aksi demonstrasi menjelang unjuk rasa tersebut.
Upaya para pengunjuk rasa untuk menantang kewenangan tersebut di Mahkamah Agung negara bagian gagal, hanya beberapa saat sebelum aksi dimulai, menurut media setempat.
Terduga pelaku penembakan Pantai Bondi, Sajid Akram (50), ditembak mati oleh polisi saat insiden berlangsung. Warga negara India tersebut memasuki Australia dengan visa pada 1998.
Putranya yang berusia 24 tahun, Naveed, warga negara Australia kelahiran setempat yang kini masih ditahan, telah didakwa atas tuduhan terorisme dan 15 kasus pembunuhan.
Sebagian warga Yahudi Australia juga ikut memprotes kunjungan tersebut. Dewan Yahudi Australia yang berhaluan progresif menyatakan bahwa Herzog tidak diterima karena perannya dalam “kehancuran Gaza yang terus berlangsung.”
Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyatakan tahun lalu bahwa Herzog berpotensi dimintai pertanggungjawaban hukum atas hasutan genosida, menyusul pernyataannya bahwa seluruh rakyat Palestina—“sebuah bangsa secara keseluruhan”—bertanggung jawab atas Operasi Badai Al-Aqsa yang dilancarkan Hamas di wilayah pendudukan. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina.


