Al-Quds, Purna Warta – Surat kabar Zionis Israel Hayom dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa militer rezim Zionis, bekerja sama dengan Badan Yahudi serta Otoritas Imigrasi dan Penyerapan, telah mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga Yahudi di luar wilayah pendudukan, במסגרת tahap kedua perekrutan mereka.
Menurut laporan tersebut, dalam kebijakan ini militer memaksa warga Yahudi berusia antara 21 hingga 26 tahun—yang telah melewati usia normal wajib militer—untuk bergabung dengan angkatan bersenjata, sebagai upaya menutup kekurangan tenaga manusia yang akut.
Media Zionis itu menambahkan bahwa militer tengah mengalami kekurangan personel yang serius, dengan defisit sekitar 12.000 personel cadangan, termasuk 7.500 tentara aktif, di samping berkurangnya kekuatan cadangan serta terus tergerusnya kemampuan militer akibat pengunduran diri personel yang ada.
Sumber-sumber rezim Zionis sebelumnya juga melaporkan bahwa militer rezim tersebut tengah menghadapi krisis kekurangan sumber daya manusia.
Kepala Staf Militer rezim Zionis, Eyal Zamir, sebelumnya dalam sebuah surat yang tidak lazim kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Perang Yisrael Katz, memperingatkan bahwa krisis kekurangan personel telah mencapai tingkat yang berbahaya dan bahwa tanpa tindakan segera, militer Israel akan kehilangan pasukan-pasukan yang kompeten.
Dalam surat tersebut, Zamir menulis bahwa krisis kekurangan personel sangat serius dan bahwa untuk mengatasinya diperlukan pengesahan undang-undang serta reformasi yang diperlukan paling lambat pada 1 Januari (11 Dey).
Media-media berbahasa Ibrani menggambarkan pengiriman surat tersebut sebagai langkah yang luar biasa, karena biasanya peringatan semacam itu tidak disampaikan secara resmi dan langsung kepada perdana menteri dan menteri perang.
Zamir dalam suratnya juga menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini terdapat bahaya besar, serta telah terjadi kerusakan serius terhadap motivasi dan kapasitas personel tetap militer Israel.
Ia meminta Perdana Menteri Netanyahu dan Menteri Perang Katz untuk turun tangan secara langsung dalam persoalan ini dan segera menuntaskan masalah tersebut, agar militer tidak kehilangan personel-personel andal yang dimilikinya.


