Pesan Umat Kristiani Palestina di Tepi Barat pada Hari Natal: Gaza Ada di Hati Kami

Masihi Gaza

Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan “Yafa Dheeb”, wartawan di Tepi Barat, bertepatan dengan datangnya Tahun Baru Masehi, kota Betlehem, tempat kelahiran Nabi Isa (Yesus), menyaksikan kembali perayaan Tahun Baru Kristiani setelah dua tahun absen. Namun, perayaan suci ini tidak membuat umat Kristiani Palestina melupakan kenangan pahit dua tahun perang dan blokade yang menimpa saudara-saudara mereka di Gaza maupun di seluruh Tepi Barat.

Pesan Harapan dan Ketahanan
Amina Zahran, seorang perempuan Kristiani Palestina dari Nazaret, menekankan semangat perlawanan bangsa Palestina meski menghadapi segala kesulitan. Ia menyampaikan:
“Pesan saya tahun ini kepada bangsa Palestina adalah bahwa seperti burung phoenix, kami selalu bangkit dari reruntuhan. Pesan saya kepada dunia adalah bahwa kami adalah bangsa yang mencintai hidup. Meski diliputi rasa sakit dan luka, bangsa Palestina berhak hidup. Kami selalu menyampaikan pesan kami kepada dunia.”

Menanggapi beberapa sindiran pihak yang ingin menciptakan perpecahan antara warga Gaza dan Tepi Barat, ia menambahkan:
“Beberapa orang berkata kepada kami, ‘Kalian orang Tepi Barat hidup di dunia satu, sementara Gaza di dunia lain.’ Namun semua harus tahu bahwa Gaza selalu ada di mata dan hati kami. Mereka tahu bahwa kami memberikan yang terbaik bagi mereka, karena kami memiliki takdir yang sama… Kami adalah satu bangsa, tidak ada yang bisa memisahkan kami.”

Perayaan Natal di Betlehem dan Yerusalem
Di Betlehem, tempat kelahiran Nabi Isa (a.s.), pohon Natal kembali bersinar, namun cahaya kali ini mengingatkan pada rumah-rumah yang diblokade dan nama-nama para syuhada yang absen pada tahun baru ini.

Di Yerusalem pendudukan, di mana suara lonceng gereja bersatu dengan adzan, ibadah ritual tetap digelar meski menghadapi berbagai hambatan dan pembatasan. Pada masa suci ini, keluarga Kristiani sering terhalang oleh pos-pos pemeriksaan dan rintangan yang dibuat oleh rezim Israel, sehingga merayakan Tahun Baru bersama keluarga menjadi perjalanan yang penuh kesabaran.

Ibrahim Redaideh dari Nablus mengatakan:
“Kami hampir dua sampai tiga tahun berturut-turut mengalami situasi perang, namun sekarang di masa Tahun Baru, kami mendoakan kedamaian dan kasih bagi semua. Semoga keadaan membaik, bahkan lebih baik dari sebelumnya, dan semua orang, termasuk warga Gaza, hidup dalam kedamaian dan kasih. Secara bertahap kami menyesuaikan diri dengan kondisi baru dan berharap keadaan semakin membaik setiap hari.”

Makna Natal bagi Palestina
Di Betlehem, perayaan Natal bukan sekadar ritual, tetapi simbol keberlangsungan hidup dan perhatian terhadap kehidupan meski di bawah penjajahan yang berusaha merenggut sukacita.

Yara Yaish, dari kota Al-Zababdeh di Jenin, menegaskan:
“Natal pada dasarnya adalah perayaan Palestina dan milik kita semua. Kami adalah bangsa yang mencintai perdamaian, tetapi perdamaian yang selaras dengan nilai-nilai kami sebagai orang Palestina.”

Ia menambahkan:
“Setelah dua tahun terhenti karena perang Gaza, kami ingin memberi tahu dunia bahwa kami masih hidup dan tetap melanjutkan kehidupan dan perlawanan kami. Kami tidak melupakan keluarga kami di Gaza maupun di Tepi Barat utara, baik di Tulkarim maupun Jenin. Kami masih ada. Meski setelah dua tahun terhenti, perayaan tidak sama seperti sebelumnya—ada juga duka dan kesedihan di dalamnya.”

Hadeel Salameh, desainer kampanye “Shams” dari Birzeit, yang hadir di perayaan Tahun Baru di Betlehem, mengatakan:
“Hari ini, setelah dua tahun absen, saya kembali hadir dalam perayaan Tahun Baru dan mengikuti ritual Natal. Selama dua tahun itu, tidak ada kegiatan atau perayaan karena perang Gaza. Sayangnya, perang telah melemahkan fondasi ekonomi bangsa Palestina, namun kami tetap dikenal dunia karena ketahanan kami. Kami berhak bahagia dan merayakan sukacita, dan kini kami merasakan kebahagiaan itu bersama orang-orang di sini.”

Semangat Baru Tahun Ini
Perayaan Tahun Baru Masehi di Palestina kali ini datang dengan iman yang lebih kuat, harapan yang lebih tulus, dan komitmen yang lebih besar terhadap tanah yang lahirnya perdamaian dan hidup berdampingan.

Setelah dua tahun perang, Betlehem kembali mengenakan pakaian sukacita dan mengirimkan pesan kepada dunia bahwa warga Palestina di sini mencintai hidup dan memperjuangkan kebahagiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *