Al-Quds., Purna Warta – Duta Besar Amerika Serikat untuk wilayah pendudukan Israel, Mike Huckabee, telah diam-diam bertemu dengan Jonathan Pollard — mantan mata-mata Angkatan Laut AS yang dihukum karena memata-matai untuk rezim Israel — di kedutaan besar AS di al-Quds, sebuah langkah yang memicu kemarahan para pendukung Donald Trump dan berbagai pihak lainnya.
Baca juga: Tepi Barat di Ambang Intifada Ketiga di Tengah Meningkatnya Kekerasan Israel
Pertemuan tersebut berlangsung pada bulan Juli dan dikonfirmasi oleh Pollard sendiri serta tiga pejabat AS, menurut laporan The New York Times pada Kamis. Pertemuan itu menjadi sorotan karena Pollard menghabiskan 30 tahun di penjara AS setelah vonis spionase yang sangat terkenal.
Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 1987. Saat bekerja di intelijen angkatan laut AS, Pollard mencuri koper-koper berisi dokumen sangat rahasia dan menyerahkannya kepada pejabat Israel.
Israel mengakui pada 1990-an bahwa Pollard adalah agennya dan kemudian memberinya kewarganegaraan.
Ia dibebaskan bersyarat pada November 2015 dan pindah ke wilayah pendudukan Israel pada akhir Desember 2020.
Menurut dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya sebagaimana dikutip The Times, pertemuan itu tidak tercantum dalam agenda resmi Huckabee dan berlangsung tanpa sepengetahuan badan intelijen AS.
Belum jelas apakah Huckabee meminta persetujuan pemerintahan Trump sebelum bertemu Pollard.
Sumber-sumber yang berbicara kepada The Times menyebut bahwa Badan Intelijen Pusat (CIA) “terkejut” mendengar kabar pertemuan tersebut, karena langkah itu melanggar tradisi panjang para pejabat AS yang menghindari kontak dengan individu yang pernah dihukum sebagai mata-mata.
Baca juga: Pasukan Israel Tembak Mati Dua Remaja Palestina di Tepi Barat yang Diduduki
Gedung Putih juga mengatakan tidak mengetahui pertemuan antara Huckabee dan Pollard tersebut.
Berbicara kepada wartawan pada Kamis, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa pemerintahan Trump tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang pertemuan tersebut.
“Presiden mendukung duta besar kita, Mike Huckabee, dan segala upayanya untuk Amerika Serikat dan Israel,” tegasnya.
Sementara itu, sejumlah tokoh pendukung Trump menuntut penjelasan pada Kamis terkait pertemuan rahasia di al-Quds tersebut.
“Ini perilaku yang mengejutkan dari seorang duta besar Amerika Serikat. Apakah Huckabee akan menjelaskannya?” tulis mantan pembawa acara Fox News Tucker Carlson di platform X.
“Minta segera Duta Besar Huckabee ditarik pulang, ia sudah di luar kendali,” ujar Steve Bannon, mantan kepala strategi Gedung Putih dan ketua eksekutif Breitbart.
“Tidak ada alasan apa pun bagi Mike Huckabee—yang seharusnya menjadi DUTA BESAR KITA dan membela kepentingan negara kita—untuk bertemu dengan Jonathan Pollard, yang hingga kini masih mendorong aksi mata-mata terhadap AS,” protes komentator politik Mike Cernovich, yang juga menyerukan dilakukannya penyelidikan atas pertemuan tersebut.
Beberapa Demokrat, termasuk anggota Kongres Joaquin Castro (D-TX) dan mantan staf Gedung Putih era Obama Tommy Vietor, juga mengecam pertemuan itu.
Dalam wawancara televisi dengan saluran i24 News Israel pada Kamis, Pollard mengatakan pertemuan dengan Huckabee terjadi atas permintaannya.
“Saya pada awalnya meminta pertemuan itu karena alasan yang sangat pribadi,” katanya.
“Saya ingin menyampaikan apresiasi tulus saya atas segala upaya yang telah ia lakukan untuk saya ketika saya berada di penjara,” tambahnya.
Pollard mengungkapkan bahwa ia yakin seseorang dari CIA yang bertugas di kedutaan AS di al-Quds membocorkan informasi tentang pertemuan tersebut kepada media dalam “upaya mendiskreditkan” sang duta besar dan “menyingkirkannya” dari jabatannya.
Kasus spionase Pollard untuk Israel sejak lama menegangkan hubungan antara Tel Aviv dan Washington sebagai dua sekutu dekat. Kasus ini masih dianggap sebagai salah satu pelanggaran informasi rahasia paling merusak dalam sejarah Amerika Serikat.


