Penurunan Tajam Jumlah Pasukan Tempur di Militer Israel; Krisis Perekrutan Tentara di Tel Aviv

kurang

Al-Quds, Purna Warta – Surat kabar Israel Maariv melaporkan adanya krisis serius kekurangan sumber daya manusia di militer Israel.

Menurut Maariv menulis bahwa perang yang sedang berlangsung melawan Iran telah memperparah masalah kekurangan personel di militer Israel, yang diperkirakan akan mencapai defisit 17.000 personel hingga akhir tahun ini.

Berdasarkan laporan tersebut, saat ini militer Israel menghadapi kekurangan sekitar 12.000 tentara wajib militer, di mana 9.000 di antaranya merupakan pasukan tempur. Angka ini dapat meningkat menjadi 17.000 jika kebijakan seperti wajib militer bagi komunitas Haredi Jews, perpanjangan masa dinas menjadi 36 bulan, serta aturan terkait pasukan cadangan tidak segera disahkan.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa militer Israel baru-baru ini telah mengirimkan surat panggilan kepada ribuan anggota komunitas Haredi. Selain itu, divisi sumber daya manusia militer mengajukan rencana untuk mengontrak tentara wajib menjadi personel tetap, khususnya di unit-unit elit seperti teknik tempur.

Para komandan militer sebelumnya menyatakan bahwa batas maksimal masa tugas pasukan cadangan pada tahun 2026 adalah 70 hari. Namun, pejabat terkait mengakui bahwa akibat perang, banyak tentara kini menerima perintah mobilisasi darurat yang dikenal sebagai “Order 8”, yang mencerminkan kondisi krisis dan kebutuhan mendesak akan tambahan personel.

Krisis kekurangan personel ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan militer terhadap Israel Defense Forces di berbagai front, termasuk Gaza, Lebanon, dan ketegangan dengan Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, operasi militer yang berkepanjangan telah menyebabkan kelelahan pasukan, peningkatan korban, serta penurunan minat untuk bergabung dengan militer.

Isu wajib militer bagi komunitas Haredi Jews menjadi salah satu sumber ketegangan internal di Israel. Kelompok ini secara historis mendapatkan pengecualian dari wajib militer, namun meningkatnya kebutuhan personel membuat pemerintah mempertimbangkan kebijakan baru yang memicu protes besar.

Di sisi lain, eskalasi konflik dengan kelompok seperti Hizbullah dan kelompok perlawanan Palestina juga memperluas tekanan terhadap militer Israel. Serangan roket, drone, dan operasi lintas batas memaksa Israel mempertahankan kesiapsiagaan tinggi di berbagai wilayah secara bersamaan.

Para analis menilai bahwa kombinasi antara perang berkepanjangan, krisis politik internal, serta tekanan internasional dapat memperdalam tantangan strategis Israel, terutama jika konflik terus meluas menjadi perang regional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *