London, Purnqa Warta – Seorang tahanan yang melakukan mogok makan dan berafiliasi dengan kelompok pro-Palestina Inggris, Palestine Action, menyatakan bahwa dirinya mulai kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih dan mengucapkan kata-kata dengan jelas.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh Prisoners for Palestine pada Senin, Heba Muraisi—yang saat ini telah memasuki hari ke-57 mogok makan di sebuah penjara di Inggris—mengatakan bahwa dirinya semakin “lemah dari hari ke hari” dan bahwa ia “tidak lagi bisa berbaring miring karena wajahnya terasa sakit”.
“Heba masih bertahan dengan kuat, tetapi ia telah berada jauh di zona berbahaya, mulai kehilangan kemampuan berbicara dan berpikir dengan jelas. Ia sangat membutuhkan keberadaan keluarganya saat ini,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Menurut pernyataan itu, Muraisi dipindahkan pada Oktober dari Penjara Bronzefield ke Penjara HMP New Hall di Wakefield, Inggris utara, yang berjarak hampir 100 mil dari teman dan keluarganya. Pemindahan tersebut digambarkan sebagai “tindakan yang jelas bersifat dendam … untuk memisahkannya dari para pemogok makan lainnya demi melemahkan tekad perlawanannya”.
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Muraisi tidak bertemu dengan keluarganya selama lebih dari empat bulan.
Sementara itu, para aktivis pro-Palestina pada Senin berkumpul di luar Penjara New Hall untuk menggelar aksi solidaritas bagi Muraisi.
Para demonstran menuntut agar Muraisi dipindahkan kembali ke Penjara HMP Bronzefield.
Muraisi merupakan satu dari empat tahanan yang masih melanjutkan mogok makan, sementara dua aktivis lainnya terpaksa menghentikan aksinya setelah dirawat di rumah sakit akibat kondisi kesehatan yang memburuk.
Sebanyak delapan tahanan Palestine Action menghadapi tuduhan pembobolan dan perusakan properti di sebuah pabrik senjata milik Israel yang dioperasikan oleh Elbit Systems UK, serta di Pangkalan RAF Brize Norton, sebelum kelompok tersebut dilarang oleh pemerintah Inggris.
Mereka telah menunggu proses persidangan sejak 2024, namun diperkirakan tidak akan dihadapkan ke pengadilan setidaknya hingga Mei tahun depan.
Teuta Hoxha adalah pemogok makan lainnya yang saat ini ditahan di Penjara HMP Peterborough. Ia menyatakan tidak mampu berdiri tanpa mengalami pingsan dan kini “hampir sepenuhnya terbaring di tempat tidur” seiring memburuknya kondisi kesehatannya akibat mogok makan.
Pada 27 Desember, sekelompok pakar hak asasi manusia PBB menyatakan keprihatinan mendalam terhadap keselamatan jiwa dan hak-hak dasar para tahanan Palestine Action, seraya memperingatkan bahwa mereka berisiko mengalami kegagalan organ dan kematian setelah tujuh pekan mogok makan.
Para pakar tersebut mendesak Inggris untuk segera menjamin layanan kesehatan yang layak bagi seluruh pemogok makan, serta terlibat dalam dialog dan tindakan yang bermakna guna menanggapi tuntutan para pengunjuk rasa, menangani pelanggaran hak yang mendasar, dan mengakhiri penindasan terhadap aktivisme pro-Palestina.
Seruan mendesak dari PBB itu muncul setelah pernyataan dari pengacara yang mewakili delapan tahanan pemogok makan, yang menyebutkan bahwa Menteri Kehakiman Inggris, David Lammy, menolak permintaan mereka untuk perundingan darurat.
Para pengacara tersebut berencana mengajukan gugatan hukum terhadap pemerintah Inggris atas penolakannya untuk membuka dialog.
Tuntutan para pemogok makan meliputi pembebasan dengan jaminan segera, hak atas persidangan yang adil, serta pencabutan pelarangan terhadap Palestine Action, yang mengecam pemerintah Inggris atas keterlibatannya dalam kejahatan perang Israel di Gaza.


