Amman, Purna Warta – Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, memperingatkan bahwa rezim Israel tampaknya tengah merencanakan sebuah “pembantaian besar-besaran” di Gaza di tengah pengepungan ketat dan serangan militer intensif.
Baca juga: Demonstran di London Desak Larangan Israel dalam Ajang Olahraga Internasional
Peringatan itu disampaikan setelah Israel mengancam seluruh penduduk Gaza City, menyatakan bahwa warga Palestina yang tetap tinggal akan dianggap sebagai “teroris” atau “pendukung teroris.”
Lazzarini menegaskan pernyataan semacam itu memunculkan kekhawatiran pembunuhan massal.
“Ini adalah pernyataan yang menunjukkan adanya rencana pembantaian besar-besaran: membunuh lebih banyak perempuan, anak-anak, lansia, dan orang-orang rentan yang tak mampu mengungsi.”
Ia menekankan bahwa tidak ada otoritas mana pun yang memiliki “lisensi untuk membunuh warga sipil” dan memperingatkan bahwa kelanjutan sikap diam dunia internasional akan berarti turut berkomplot dalam tindakan yang oleh penyelidik PBB telah disebut sebagai genosida.
Pernyataan itu muncul di tengah pengepungan dan pengeboman tanpa henti di Gaza.
Rumah sakit melaporkan bahwa tembakan dan serangan udara Israel menewaskan 12 warga Palestina di berbagai wilayah pada Jumat dini hari, termasuk sedikitnya tujuh orang di Gaza City. Kompleks Medis Nasser mengonfirmasi tiga korban tewas lainnya ketika sebuah kendaraan dihantam di Khan Younis.
Pejabat pertahanan sipil di Gaza mengatakan penutupan jalan pesisir Rashid telah memutus satu-satunya jalur tersisa bagi masuknya makanan dan obat-obatan ke kota. Menurut laporan The New Arab, sekitar 600.000 warga Palestina masih terjebak di Gaza City di bawah gempuran serangan.
Awal pekan ini, Menteri Perang Israel Israel Katz memerintahkan seluruh penduduk meninggalkan rumah mereka menuju kamp tenda di wilayah selatan, dengan ancaman bahwa siapa pun yang bertahan akan dijadikan target. Ia menyebut hal itu sebagai “kesempatan terakhir” bagi warga sipil untuk pergi.
Namun banyak yang menolak meninggalkan kota.
“Kami tidak akan pergi,” kata Hani, 24 tahun, kepada Reuters. Ia menceritakan bagaimana sebuah drone menjatuhkan granat di atap gedungnya, tetapi menegaskan keluarganya memilih bertahan karena takut tidak akan pernah diizinkan kembali jika mereka mengungsi.
Baca juga: Tahanan Global Sumud Flotilla Lakukan Mogok Makan Usai Serangan Israel
Kantor Media Pemerintah Gaza pada Rabu mengatakan pasukan Israel telah menutup Jalan al-Rashid, menyebutnya sebagai “salah satu jalur vital yang digunakan warga sipil untuk berpindah antarwilayah di Gaza.” Langkah itu semakin memperketat pembatasan pergerakan di wilayah terkepung.
Seiring eskalasi agresi, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengumumkan penangguhan operasinya di Gaza City, menyusul langkah serupa oleh Dokter Lintas Batas (MSF) pekan lalu.
Sementara itu, Hamas masih mempertimbangkan proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, meski syarat-syaratnya dinilai lebih menguntungkan Israel. Anggota biro politik Hamas, Mohammed Nazzal, mengatakan pihaknya akan segera mengumumkan posisi terkait rencana tersebut.
Korban jiwa terus bertambah. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan pada Kamis bahwa perang genosida Israel telah menewaskan sedikitnya 66.225 warga Palestina dan melukai lebih dari 168.000 orang sejak Oktober 2023.
Studi independen memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa melampaui 100.000 jiwa. Dalam kasus terbaru, seorang perawat Palestina ditembak di kepala oleh drone Israel saat tengah merawat pasien di dalam Rumah Sakit Nasser, Khan Younis.


