Gaza, Purna Warta – Pejabat Gaza memperingatkan bahwa lebih dari 10.000 jenazah warga Palestina masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat pengeboman Israel. Mereka mendesak intervensi internasional segera untuk membantu operasi evakuasi.
Baca juga: Perang Genosida Israel Jadikan 288.000 Keluarga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal
Komite Nasional Orang Hilang Gaza dalam pernyataannya pada Kamis menyebut bahwa “situasi kemanusiaan di Gaza menuntut intervensi mendesak untuk mengakhiri penderitaan ribuan keluarga yang menanti kepastian nasib anak-anak mereka.”
Komite itu menyerukan agar tim penyelamat internasional dan alat berat segera diizinkan masuk guna mengevakuasi korban yang terperangkap dan hilang.
Komite tersebut mengecam pembatasan Israel atas masuknya peralatan penting penyelamatan sebagai “pelanggaran jelas hukum humaniter internasional” dan menyerukan komunitas global “bertindak cepat untuk menyelamatkan nyawa dan menjunjung martabat manusia.”
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, hingga saat ini baru 28 persen dari kebutuhan truk bantuan yang masuk sejak pengumuman “rencana perdamaian” AS.
Dalam pernyataannya pada Kamis, kantor tersebut menegaskan bahwa Israel tengah melanjutkan “kebijakan pencekikan”.
Israel, menurut kantor itu, justru mengizinkan masuknya barang-barang bernilai gizi rendah seperti minuman ringan, cokelat, makanan olahan, dan keripik — yang kemudian beredar di pasar dengan harga 15 kali lipat dari nilai normalnya akibat kontrol Israel atas rantai pasok.
Kondisi ini, menurut kantor tersebut, menunjukkan “penerapan kebijakan rekayasa kelaparan, penguasaan ketahanan pangan, dan penargetan langsung atas kehidupan warga sipil.”
Pejabat Gaza menyebut bahwa minimnya peralatan penyelamatan khusus membuat pencarian ribuan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan nyaris mustahil dilanjutkan.
Sementara itu Israel terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata, dengan lebih dari 200 warga Palestina tewas sejak kesepakatan itu mulai berlaku.
Baca juga: Reaksi Zionis atas Kemenangan Mamdani: “New York Telah Jatuh”
Sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, menyatakan telah kehilangan kontak dengan para pejuangnya di Rafah — wilayah yang sebagian besar hancur dan dikuasai pasukan Israel selama operasi genosidal tersebut.
Diperkirakan sekitar 200 pejuang Palestina masih terjebak di jaringan terowongan bawah tanah kota itu.
Menteri Keuangan garis keras Israel, Bezalel Smotrich, dalam pernyataannya pekan ini mengklaim bahwa Israel “hampir berhasil membunuh” 200 pejuang yang terjebak itu, menyusul laporan yang menyebut Tel Aviv menolak proposal jalur aman bagi mereka.
Laporan lain juga menyebut bahwa Amerika Serikat tengah berupaya membujuk Israel untuk mengizinkan para pejuang menyerahkan senjata kepada pihak ketiga — Mesir, Qatar, atau Turki — untuk kemudian diberikan amnesti.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa Israel “perlu bersikap dewasa” dan tidak membiarkan isu “taktis” mengacaukan kesepakatan gencatan senjata Gaza.
Sejak Oktober 2023, penembakan dan serangan udara Israel terus meratakan rumah warga, rumah sakit, dan jaringan air di seluruh Gaza, menghancurkan infrastruktur wilayah itu hingga porak-poranda.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas akibat perang genosidal Israel telah melampaui 68.875 jiwa.
Gencatan senjata yang ditengahi AS mulai berlaku pada 10 Oktober. Namun Israel telah melakukan lebih dari 200 pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut, menurut Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza.


