Al-Quds, Purna Warta – Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memperingatkan bahwa Hamas akan dipaksa menyerahkan seluruh persenjataannya, seraya mengancam pendudukan penuh Jalur Gaza jika gerakan perlawanan Palestina tersebut menolak untuk melucuti senjata.
“Kami memperkirakan dalam beberapa hari ke depan, Hamas akan diberikan ultimatum untuk melucuti senjata dan melakukan demiliterisasi total di Gaza,” kata Menteri Israel itu dalam wawancara dengan penyiar Israel Kan pada Senin.
“Jika tidak mematuhinya, IDF (pasukan pendudukan Israel) akan memiliki legitimasi internasional dan dukungan Amerika untuk melakukannya sendiri, dan IDF sudah bersiap untuk itu serta sedang menyusun rencana,” ujar Smotrich, yang merupakan anggota “kabinet keamanan” rezim yang bertugas menyetujui operasi militer berskala besar.
Ketika ditanya bagaimana militer akan melaksanakan ofensif tersebut, ia menambahkan, “Saat ini ada dua atau tiga alternatif yang sedang kami kaji.”
Sementara itu, Khaled Meshaal, mantan pemimpin Hamas dan kepala kantor diaspora kelompok tersebut saat ini, menegaskan bahwa upaya untuk mengkriminalisasi perlawanan bersenjata dan melucuti faksi-faksi Palestina adalah “tidak dapat diterima” selama pendudukan Israel masih berlangsung.
“Selama masih ada pendudukan, akan ada perlawanan. Perlawanan adalah hak rakyat yang berada di bawah pendudukan … sesuatu yang dibanggakan bangsa-bangsa,” ujarnya.
Pernyataan Smotrich muncul ketika pasukan Israel telah memperluas apa yang disebut “garis kuning,” batas yang diklaim Israel pada tahap pertama gencatan senjata Gaza Oktober lalu, dengan merebut wilayah tambahan dan memaksa warga Palestina ke area yang semakin sempit di wilayah yang terkepung itu.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimaksudkan untuk mengakhiri genosida yang dimulai pada 8 Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun telah berulang kali dilanggar oleh Israel, yang terus melakukan serangan di seluruh Gaza.
Menurut otoritas Gaza, pasukan Israel telah melakukan ratusan pelanggaran terhadap gencatan senjata sejak mulai berlaku pada 10 Oktober tahun lalu. Sedikitnya 615 warga Palestina tewas dan 1.651 lainnya terluka selama periode tersebut.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, perang genosida Israel telah menewaskan lebih dari 72.073 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.749 lainnya.


