Mantan Menteri Israel Serukan Persiapan Tempat Perlindungan Aman saat Tel Aviv Dorong Perang Melawan Iran

menteri israel

Al-Quds, Purna Warta – Mantan menteri urusan militer Israel Avigdor Lieberman menyerukan persiapan tempat-tempat perlindungan aman bagi para pemukim Israel jika terjadi serangan balasan Iran, di tengah dorongan Tel Aviv untuk memicu kemungkinan agresi Amerika Serikat terhadap Iran.

Baca juga: Skandal Baru Google: Kerja Sama Rahasia Gemini dengan Kontraktor Militer Israel Terungkap

“Kita harus bersiap dari sekarang dan menyiapkan tempat-tempat aman bagi jutaan orang yang tidak memiliki perlindungan yang layak,” kata Lieberman, pemimpin partai sayap kanan Yisrael Beiteinu, pada Rabu.

Pernyataan Mantan Menteri Israel tersebut disampaikan setelah ia mengakui bahwa serangan rudal kuat Iran telah menyebabkan kerusakan besar pada target-target strategis Israel selama perang 12 hari pada Juni lalu.

Pada 13 Juni, Israel melancarkan perang agresi tanpa provokasi terhadap Iran, yang kemudian diikuti oleh Amerika Serikat. Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran menyerang target-target strategis di seluruh wilayah pendudukan serta Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, instalasi militer terbesar AS di Asia Barat.

Di bawah gempuran serangan balasan yang berkelanjutan, rezim Israel terpaksa meminta gencatan senjata.

Lieberman juga menyatakan bahwa keputusan akhir untuk berperang melawan Iran berada di tangan Presiden AS Donald Trump.

“Kita berada pada tahap di mana Israel harus menenangkan diri dan menunggu,” ujarnya, seraya mengklaim bahwa Israel memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk memengaruhi Presiden Trump, karena “dialah yang mengambil keputusan-keputusan menentukan.”

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pejabat tinggi Israel—termasuk Kepala Staf Militer Jenderal Eyal Zamir dan kepala badan intelijen Mossad David Barnea—dilaporkan mengunjungi Washington, seiring dengan peningkatan kehadiran militer AS di dekat Iran.

Media Amerika Axios melaporkan bahwa para pejabat AS menyebut Israel terus menekan Trump agar mengizinkan serangan terhadap Iran, namun sejauh ini ia masih enggan.

“Yang benar-benar menginginkan serangan adalah pihak Israel. Presiden belum sampai ke titik itu,” ujar seorang pejabat AS kepada Axios.

Baca juga: Hamas: Perlakuan Buruk terhadap Warga Palestina di Rafah Merupakan Kejahatan Fasis

Laporan tersebut muncul di tengah meredanya ancaman konfrontasi militer antara Iran dan AS dalam beberapa hari terakhir, menyusul pernyataan dari kedua pihak mengenai kemungkinan dimulainya kembali perundingan terkait program nuklir Teheran.

Bulan lalu, Presiden Trump mengancam akan menyerang Iran, sembari menyerukan kepada para perusuh untuk merebut lembaga-lembaga negara dan menjanjikan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.”

Para pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan respons cepat dan kuat, yang menargetkan pangkalan dan pasukan AS di seluruh kawasan, serta kota-kota yang diduduki Israel.

Sejak itu, Trump mengubah retorikanya, dari ancaman aksi militer menjadi seruan untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran.

Axios mengutip tiga penasihat senior Trump yang menyatakan bahwa Trump dan banyak orang di lingkaran terdekatnya kini meragukan bahwa serangan militer terhadap Iran merupakan keputusan yang tepat.

Sementara itu, Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, telah memperingatkan bahwa setiap perang yang diprakarsai Amerika Serikat terhadap Iran akan berubah menjadi perang regional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *