Al-Quds, Purna Warta – Menurut artikel Haaretz , Ben-Ami menulis bahwa perang melawan Iran telah berubah menjadi kegagalan strategis besar bagi Tel Aviv dan Washington. Hal ini, menurutnya, telah mengguncang kepercayaan negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat serta melemahkan posisi Israel bahkan di mata sekutunya sendiri.
Ia menambahkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan dalam konfrontasi dengan Iran menandai berakhirnya sebuah kegagalan strategis besar bagi para perancang perang tersebut, yaitu Benjamin Netanyahu dan Donald Trump. Ia menegaskan bahwa keberhasilan militer taktis tidak berhasil diubah menjadi kemenangan strategis.
Mantan menlu tersebut juga menjelaskan bahwa perang ini akan tercatat sebagai salah satu contoh menonjol di mana kekuatan militer besar terjebak dalam perang asimetris.
Ben-Ami menekankan bahwa perang tersebut justru memberikan hasil sebaliknya: Iran tampil lebih kuat dari sebelumnya, sementara kepercayaan negara-negara Teluk terhadap perlindungan Amerika Serikat melemah dan mendorong mereka untuk mencari alternatif regional lainnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap upaya untuk mengalihkan perhatian dari isu Palestina melalui perang dengan Iran dan sekutunya merupakan bentuk penyesatan.
Media seperti The New York Times dan BBC menyoroti bahwa konflik tersebut berakhir tanpa pencapaian jelas terhadap tujuan utama yang diumumkan, sementara risiko eskalasi regional tetap tinggi.
Lembaga seperti Center for American Progress menilai bahwa Amerika Serikat justru berada pada posisi lebih lemah setelah konflik, meskipun telah melakukan serangan militer besar.
Media Israel seperti Yedioth Ahronoth dan Israel Hayom melaporkan meningkatnya kekhawatiran bahwa hasil perang tidak memberikan keuntungan strategis jangka panjang dan bahkan dapat memperburuk situasi keamanan.


