Gaza, Purna Warta – Direktur Jaringan LSM Palestina di Jalur Gaza, Amjad al-Shawa, dalam pernyataannya pada Sabtu mengatakan bahwa sedikitnya 18.500 pasien dan korban luka membutuhkan rujukan segera untuk mendapatkan perawatan medis di luar wilayah pesisir tersebut.
Pernyataan ini disampaikan di tengah kondisi sistem layanan kesehatan Gaza yang nyaris mengalami kehancuran total akibat serangan udara Israel yang terus berlangsung serta kelangkaan obat-obatan dan peralatan medis.
Al-Shawa mendesak utusan diplomatik Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk segera memberikan tekanan kepada Israel agar memfasilitasi pembukaan perlintasan dan mengizinkan masuknya bantuan tanpa hambatan.
Ia menegaskan bahwa sekitar 90 persen penduduk Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Menurutnya, banyak anak-anak menderita penyakit akibat paparan cuaca dingin dan kekurangan gizi karena kondisi hidup yang sangat buruk serta ketiadaan pemanas dan tempat berlindung. Ia juga mengonfirmasi bahwa dalam beberapa pekan terakhir telah tercatat kematian di kalangan anak-anak tersebut.
Al-Shawa menambahkan bahwa pasukan pendudukan Israel telah melanggar apa yang disebut sebagai “garis kuning” dan meningkatkan kehadiran militernya di dalam Jalur Gaza, yang secara jelas melanggar kesepakatan yang telah ditetapkan.
Ia menjelaskan bahwa proporsi wilayah yang berada di bawah pendudukan telah meningkat dari sekitar 53 persen sebelum penerapan gencatan senjata menjadi lebih dari 60 persen saat ini, akibat ekspansi militer yang terus berlanjut.
Peringatan Al-Shawa sejalan dengan temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang memverifikasi bahwa sistem layanan kesehatan Gaza saat ini hanya berfungsi di bawah 30 persen dari kapasitas normalnya.
Akibatnya, banyak pasien—khususnya penderita kanker, gagal ginjal, dan mereka yang mengalami luka serius—berada dalam risiko kematian yang tinggi karena tidak diizinkan meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan medis.
Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières) juga menyuarakan keprihatinan bahwa pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap masuknya makanan, pasokan medis, dan bahan-bahan untuk tempat tinggal telah menyebabkan lonjakan signifikan angka kekurangan gizi, terutama di kalangan anak-anak dan ibu hamil.
Organisasi tersebut menyatakan bahwa situasi di Gaza telah melampaui sekadar krisis kemanusiaan, melainkan mencerminkan keruntuhan moral dan kemanusiaan yang mendasar.
Sejak gencatan senjata di Gaza diberlakukan pada 10 Oktober, pasukan Israel dilaporkan telah menewaskan 481 warga Palestina dan melukai 1.313 lainnya, yang menunjukkan pengabaian nyata terhadap ketentuan kesepakatan tersebut.
Masuknya makanan, bahan tempat tinggal, dan pasokan medis ke Gaza terus dibatasi oleh pasukan Israel, yang berdampak pada sekitar 2,4 juta warga Palestina yang hidup dalam kondisi kesulitan parah.
Perang genosida yang dimulai pada Oktober 2023 dan berlangsung hampir dua tahun itu berakhir dengan gencatan senjata, setelah menewaskan sedikitnya 71.654 warga Palestina dan melukai 171.391 lainnya.
Perang tersebut menyebabkan kehancuran luas, dengan sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza mengalami kerusakan atau hancur. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.


