Lembaga Kemanusiaan: Bantuan Masih Minim di Gaza Hampir Satu Bulan Setelah Gencatan Senjata

i bulan

New York, Purna Warta – Sejumlah lembaga bantuan internasional memperingatkan bahwa bantuan yang tiba ke Jalur Gaza masih jauh dari cukup, hampir satu bulan sejak gencatan senjata diberlakukan, sementara wilayah tersebut masih menghadapi krisis pangan dan tempat tinggal menjelang musim dingin.

Baca juga: Supporter Sepak Bola Israel yang Mengamuk di Amsterdam Terungkap Sebagai Militer Israel

Dalam pernyataan pada Selasa, Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengatakan hanya setengah dari kebutuhan pangan yang berhasil masuk ke wilayah yang terkepung itu.

Abeer Etefa, juru bicara senior WFP, menggambarkan situasi sebagai “perlombaan melawan waktu,” seraya mencatat bahwa badan tersebut telah menyalurkan 20.000 ton metrik makanan — sekitar separuh dari kebutuhan — dan baru membuka 44 dari 145 lokasi distribusi yang ditargetkan.

“Kami membutuhkan akses penuh. Kami membutuhkan semuanya bergerak cepat,” kata Etefa. “Musim dingin datang. Orang-orang masih menderita kelaparan, dan kebutuhannya sangat besar.”

Ia juga menyoroti kurangnya ragam bahan pangan untuk mencegah malnutrisi, karena sebagian besar keluarga hanya mengandalkan sereal, kacang-kacangan, dan ransum kering, sementara bahan penting seperti daging, telur, sayuran, dan buah nyaris tidak tersedia.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Palestina juga mengatakan bahwa krisis semakin diperparah oleh kekurangan bahan bakar, termasuk gas memasak, memaksa lebih dari 60 persen warga Gaza memasak dengan membakar sampah, yang menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan publik.

Selain itu, sebuah koalisi organisasi bantuan Palestina memperkirakan bahwa total bantuan yang masuk masih hanya berkisar seperempat hingga sepertiga dari kebutuhan, dengan kekhawatiran atas datangnya musim dingin dan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah di dekat area permukiman.

Lebih jauh lagi, kelompok-kelompok bantuan memperingatkan eskalasi krisis hunian, dengan Shaina Low, juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia, menggambarkan kondisi hidup sebagai “tak terbayangkan,” dan menyebut volume besar tenda serta terpal masih tertahan menunggu persetujuan Israel.

Administrasi lokal Gaza melaporkan bahwa karena pembatasan Israel, hanya sekitar 145 truk yang dapat mengirimkan bantuan setiap hari, dan PBB telah menghentikan publikasi rutin pembaruan harian mengenai jumlah truk yang masuk.

Jaringan LSM di Gaza juga menyebut bahwa wilayah tersebut masih berada dalam kondisi kelaparan, dengan bantuan kemanusiaan hanya mencakup sekitar 30 persen kebutuhan.

Baca juga: Hamas Tolak Penempatan Pasukan Asing di Gaza yang Akan “Bertindak Sebagai Pengganti Pendudukan”

Stefanos Fotiou, Direktur Pusat Koordinasi Sistem Pangan PBB, menegaskan pentingnya membuka titik penyeberangan untuk memfasilitasi masuknya bantuan ke Gaza, seraya menyatakan harapannya agar sistem pangan di wilayah itu dapat dipulihkan.

Pada 10 Oktober, gencatan senjata yang ditengahi AS diterapkan di Jalur Gaza.

Gencatan itu diharapkan membuka keran bantuan kemanusiaan ke wilayah padat penduduk tersebut, di mana kondisi kelaparan telah dikonfirmasi pada Agustus, dan hampir seluruh dari 2,3 juta penduduk Gaza kehilangan rumah akibat pemboman Israel.

Namun meski ada gencatan, kondisi tetap mengerikan. Rezim Israel terus melanggar perjanjian.

PBB memperkirakan 81 persen struktur bangunan di Gaza telah hancur atau rusak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *