Kunjungan Presiden Rezim Zionis ke Ethiopia di Tengah Upaya Memperluas Pengaruh di Tanduk Afrika

Zionis Afrika

Addis Ababa, Purna Warta – Menurut laporan Channel 7 Ibrani, Presiden Rezim Zionis, Isaac Herzog pada pagi hari ini memulai kunjungan resmi singkatnya ke Ethiopia dengan tiba di Addis Ababa. Kunjungan ini berlangsung di saat Israel berupaya mengokohkan pengaruhnya di kawasan strategis yang berbatasan dengan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.

Berdasarkan laporan tersebut, presiden rezim Zionis dijadwalkan bertemu dengan presiden, perdana menteri, serta para pemimpin komunitas Yahudi Ethiopia.

Kunjungan ini dilakukan tidak lama setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan melakukan perjalanan ke Ethiopia pada 17 Februari (28 Bahman). Hal ini menjadikan kawasan Tanduk Afrika sebagai arena persaingan yang semakin terbuka antara Turki dan rezim Zionis.

Dalam beberapa tahun terakhir, rezim Zionis telah menjalankan strategi luas untuk memperluas kehadirannya di benua Afrika dan kini memiliki hubungan resmi dengan lebih dari 40 negara Afrika.

Di mata para analis Israel, Ethiopia dianggap sebagai bagian dari “lingkungan Timur Tengah” serta basis potensial yang pro-Israel di pesisir Laut Merah. Oleh karena itu, Israel disebut telah berinvestasi di Ethiopia lebih banyak dibandingkan negara Afrika lainnya.

Ethiopia tidak hanya menjadi salah satu sumber migrasi Yahudi ke wilayah pendudukan, tetapi juga memiliki hubungan ekonomi, militer, dan intelijen yang luas dengan Tel Aviv, sehingga menjadi titik tumpu penting bagi Israel di jantung Tanduk Afrika.

Dari perspektif rezim Zionis, penguatan hubungan dengan Ethiopia memenuhi sejumlah kepentingan vital, antara lain peningkatan ekspor dan pertukaran perdagangan, pengamanan jalur pelayaran melalui Laut Merah, penjualan senjata dalam skala besar, pelatihan angkatan bersenjata, pembentukan pijakan keamanan di sekitar Bab al-Mandab, menghadapi pengaruh Iran di Afrika, serta memperoleh dukungan politik Ethiopia di forum internasional.

Tel Aviv juga berupaya membingkai kelompok-kelompok Islam sebagai “musuh bersama” guna membentuk poros keamanan antara Kenya, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Tanzania—sebuah poros yang menurut pandangan Israel dapat membatasi ancaman regional dan memperkuat pengaruh rezim tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *