Kritik Mantan Kepala Dinas Keamanan Dalam Negeri Israel terhadap Netanyahu atas Kegagalan dalam Operasi “Badai Al-Aqsa”

Topan Aqsha

Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan Kantor Berita Shihab Palestina, para mantan pejabat keamanan Israel tersebut menuduh Netanyahu dan koalisi pemerintah berupaya mempromosikan teori konspirasi, menyebarkan dokumen yang bersifat tendensius, serta mengajukan klaim tidak berdasar mengenai adanya “pengkhianatan” sebelum 7 Oktober, dengan tujuan menyalahkan lembaga-lembaga keamanan dan membebaskan tingkat politik dari tanggung jawab.

Dalam surat tersebut juga disampaikan kritik terhadap David Zini, kepala Shabak saat ini, karena dinilai bungkam terhadap kampanye “pembunuhan karakter” dan tudingan yang diarahkan kepada para pegawai lembaga itu. Ia diminta untuk secara tegas menghadapi klaim-klaim yang disebut tidak benar tersebut.

Gelombang protes ini menguat setelah Netanyahu, dalam jawaban setebal 55 halaman kepada pengawas rezim tersebut, menolak menerima tanggung jawab pribadi dan kembali menyalahkan lembaga pertahanan serta pemerintahan sebelumnya atas kegagalan tersebut. Langkah itu dilaporkan memicu ketegangan dan kekacauan dalam sidang-sidang komite parlemen rezim tersebut.

Perlawanan Palestina yang dipimpin oleh Hamas pada dini hari 7 Oktober 2023 melancarkan operasi mendadak dan berskala besar dengan menyerang permukiman Zionis di sekitar Gaza. Dalam operasi tersebut, sejumlah pangkalan militer Israel berhasil dikuasai dan puluhan warga Zionis ditawan.

Setelah dimulainya operasi “Badai Al-Aqsa” pada 7 Oktober, otoritas rezim Zionis pada hari yang sama—dengan asumsi dapat menghancurkan kelompok-kelompok perlawanan dalam beberapa hari dan kemudian menguasai Gaza—meluncurkan serangan udara intensif ke berbagai wilayah di Jalur Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023, rezim Zionis memulai perang yang menghancurkan terhadap Jalur Gaza. Selama periode tersebut, selain lebih dari 71.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sekitar 70 persen rumah dan infrastruktur di Gaza mengalami kerusakan berat. Blokade yang ketat dan krisis kemanusiaan parah, disertai kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya, terus mengancam kehidupan penduduk wilayah tersebut.

Meski demikian, rezim Zionis telah mengakui bahwa setelah sekitar 12 bulan perang, mereka belum berhasil mencapai tujuan yang dinyatakan, yakni menghancurkan Hamas dan memulangkan para tawanan Zionis dari Jalur Gaza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *