Korban Tewas akibat Serangan Israel di Seluruh Gaza Meningkat Menjadi 29 Sejak Dini Hari

dEATH

Al-Quds, Purna Warta – Sedikitnya 29 warga Palestina tewas di seluruh Jalur Gaza akibat serangan pasukan Israel, di tengah laporan serangan di Rafah, yang kembali dinilai sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata.

Baca juga: Hamas: Klaim Israel soal Pelanggaran Gencatan Senjata Dimaksudkan untuk “Membenarkan Pembantaian” di Gaza

Sedikitnya enam dari korban yang tewas akibat serangan pasukan rezim Israel di Gaza pada Sabtu dilaporkan merupakan anak-anak.

Layanan darurat melaporkan bahwa sedikitnya lima warga Palestina, termasuk tiga anak, tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah gedung apartemen di kawasan Remal, sebelah barat Kota Gaza, pada Sabtu.

Serangan udara Israel lainnya yang menargetkan sebuah tenda tempat pengungsian warga di kawasan al-Mawasi, barat laut Kota Khan Younis, menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk tiga anak, menurut sumber medis.

Selain itu, serangan pemboman pasukan rezim Israel terhadap sebuah gedung apartemen di kawasan Daraj, Kota Gaza, menyebabkan delapan warga Palestina lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sedikitnya 524 warga Palestina telah tewas akibat serangan pasukan rezim Israel sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober.

Laporan serangan juga muncul dari Rafah, sehari sebelum penyeberangan Rafah dijadwalkan dibuka kembali. Warga melaporkan terjadinya sejumlah serangan udara di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Israel.

Rezim Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah—yang menghubungkan Gaza dengan Mesir—pada Minggu, untuk pertama kalinya sejak ditutup pada Mei 2024.

Penyeberangan Rafah merupakan pintu masuk utama ke Gaza bagi warga Palestina untuk menerima bantuan internasional dan pasokan kemanusiaan.

Pembukaan kembali penyeberangan Rafah merupakan bagian dari perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.

Penyeberangan tersebut seharusnya dibuka pada fase pertama gencatan senjata, namun rezim Israel menolak melakukannya dengan alasan pencarian jenazah sandera Israel terakhir yang tewas selama perang genosida brutal rezim tersebut terhadap warga Palestina di Gaza.

Baca juga: Pergerakan Berbahaya Permukiman Ilegal Israel di Tepi Barat

Israel pada Sabtu mengumumkan bahwa mereka hanya akan mengizinkan “pergerakan orang secara terbatas” bagi mereka yang telah mendapatkan izin keamanan dari pihak Israel untuk masuk dan keluar. Namun, tidak ada bantuan kemanusiaan yang akan diizinkan melintasi penyeberangan tersebut.

Menanggapi pengumuman rezim pendudukan itu, gerakan perlawanan Palestina Hamas menyerukan kepada rezim Israel untuk mematuhi klausul-klausul dalam perjanjian gencatan senjata yang mengizinkan pergerakan bebas warga Palestina keluar dan masuk melalui penyeberangan Rafah menuju dan dari Gaza “tanpa pembatasan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *