Al-Quds, Purna Warta – Dalam sebuah laporan, Channel 13 televisi Israel menyatakan bahwa keluarga warga Zionis yang terbunuh di Gaza menggelar konferensi pers di depan gedung Knesset (parlemen Israel) dan menuntut pembentukan komite penyelidikan resmi secara segera.
Konferensi pers tersebut digelar pada Selasa, di mana keluarga para tentara yang tewas kembali menegaskan tuntutan pembentukan komite penyelidikan resmi. Ayah dari salah satu tentara Zionis yang sempat ditawan di Jalur Gaza dan kemudian tewas, mengatakan kepada wartawan:
“Jika komite penyelidikan resmi tidak dibentuk, maka tidak akan ada lagi yang disebut Israel. Mungkin satu tujuan telah tercapai, tetapi tujuan berikutnya—yakni menguji keberadaan masyarakat bernama Israel—belum terwujud.”
Ia menambahkan bahwa selama belum ada kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan-kegagalan tersebut, luka dan penderitaan pribadinya tidak akan pernah sembuh.
“Komite itu harus benar-benar mencari kebenaran, bukan komite untuk menutup-nutupi atau melakukan manuver politik. Kami tidak menginginkan komite yang sejak awal sudah tahu hasil apa yang akan diumumkannya.”
Pemberitaan Terkait dari Sumber Lain
Tekanan keluarga tentara yang tewas ini muncul di tengah krisis politik dan keamanan internal yang semakin dalam di Israel pasca-agresi Gaza. Sejumlah media Israel, termasuk Haaretz dan Yedioth Ahronoth, sebelumnya melaporkan meningkatnya kemarahan keluarga tentara dan tawanan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang mereka anggap bertanggung jawab atas kegagalan militer dan intelijen selama perang.
Protes keluarga korban juga beriringan dengan demonstrasi luas di Tel Aviv dan kota-kota lain, di mana para demonstran menuntut pengunduran diri Netanyahu, pembentukan komite penyelidikan independen, serta pertanggungjawaban politik dan militer atas kematian tentara dan kegagalan mencapai tujuan perang di Gaza.
Pengamat Israel menilai bahwa ancaman terbuka keluarga tentara terhadap keberlangsungan “masyarakat Israel” mencerminkan retaknya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan politik dan militer, serta memperlihatkan bahwa dampak perang Gaza kini berbalik menjadi krisis eksistensial di dalam negeri Israel sendiri.


