Kekejaman Israel Berlanjut di Tepi Barat

Tepi Barat, Purna Warta – Pasukan rezim Israel dan para pemukim terus melakukan penggerebekan, serangan, dan tindakan terkait lahan di seluruh Tepi Barat, menggusur warga Badui Palestina dari komunitas termasuk al-Auja, di tengah kebijakan baru-baru ini yang memungkinkan para pemukim untuk membeli tanah di daerah yang diperebutkan.

Sementara itu, warga Palestina di wilayah pendudukan mengatakan serangan pemukim yang sering terjadi disertai dengan penggerebekan militer yang sedang berlangsung, menciptakan ketidakamanan yang terus-menerus bagi masyarakat setempat.

Desa al-Auja dulunya merupakan rumah bagi sekitar 600 warga Badui Palestina, tetapi sebagian besar keluarga telah membongkar tenda mereka, mengumpulkan barang-barang mereka, dan berpencar untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman setelah serangan pemukim yang berulang kali.

Ayed Kaabneh, salah satu dari mereka yang mengungsi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia terpaksa pindah tiga kali dalam sebulan.

Ia mengatakan para pemukim yang sebelumnya menyerang keluarganya kini mengejar mereka di lokasi terbaru mereka.

“Kami membangunkan anak-anak dan memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman. Kami harus melakukannya karena kami takut para pemukim akan membakar tenda-tenda itu. Hal itu telah terjadi di banyak komunitas lain,” katanya.

Warga mengatakan mereka menerima sedikit atau tidak ada perlindungan dari otoritas Israel maupun Palestina dan sering merasa terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Dalam perkembangan terkait, laporan komunitas menunjukkan para pemukim berulang kali menekan warga Palestina untuk meninggalkan rumah mereka di seluruh wilayah tersebut, membuat keluarga-keluarga terisolasi dan rentan.

Beberapa keluarga Bedouin yang mengungsi baru-baru ini pindah ke dekat lahan yang diklasifikasikan sebagai Area A, yang berada di bawah kendali administratif Palestina, namun mereka mengatakan ketidakamanan tetap ada.

Secara terpisah, keputusan baru-baru ini oleh rezim Israel untuk mengizinkan para pemukim membeli tanah bahkan di daerah-daerah tersebut secara luas dipandang oleh penduduk sebagai kemungkinan akan meningkatkan ketegangan dan pengungsian lebih lanjut.

Secara historis, banyak keluarga Bedouin ini mengatakan mereka pertama kali diusir pada tahun 1948 ketika Israel didirikan dan sekarang takut akan pemindahan paksa yang menggemakan pengungsian sebelumnya.

Mereka mengatakan pola tersebut mencerminkan siklus berkelanjutan yang memengaruhi generasi demi generasi, menimbulkan kekhawatiran bahwa penggusuran di masa depan juga dapat meluas ke anak-anak mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *