Jihad Islami: AS dan Barat Tidak Menginginkan Gencatan Senjata di Gaza

JIhad Islami a

Al-Quds, Purna Warta – Gerakan Jihad Islami Palestina menyatakan bahwa hingga kini tidak ada proposal gencatan senjata baru untuk Gaza, seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Barat tidak menginginkan berakhirnya perang sebelum semua kelompok perlawanan terhadap Israel—baik di Palestina maupun di kawasan—dihancurkan.

Baca juga: ‘Game Over Israel’: Kampanye Baru Desak FIFA dan UEFA Tendang Israel dari Sepak Bola Dunia

Mohammad Al-Hindi, Wakil Sekretaris Jenderal gerakan perlawanan tersebut, menekankan pada Senin (22/9) bahwa Israel dan AS tidak pernah tulus dalam perundingan. Ia merujuk pada penarikan diri mereka dari proposal yang sebelumnya disampaikan oleh utusan AS, Steve Wittkoff—sebuah rencana yang sebelumnya telah disetujui pihak perlawanan.

Pejabat Jihad Islami itu juga mengungkap bahwa rezim Israel sempat membombardir delegasi Palestina di Qatar saat tengah membahas proposal gencatan senjata di sana.

Serangan tersebut menargetkan markas Hamas di Doha dalam sebuah “operasi pembunuhan,” menewaskan beberapa anggota perlawanan Palestina serta seorang perwira keamanan Qatar. Namun, pucuk pimpinan Hamas, termasuk Khalil al-Hayya, Khaled Meshal, dan Zaher Jabarin, berhasil selamat.

Pejabat Israel mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memberitahu Presiden AS Donald Trump sesaat sebelum serangan bahwa Israel berniat menyerang Qatar—yang merupakan mediator penting dalam pembicaraan gencatan senjata Israel-Hamas di tengah konflik yang terus berlangsung di Gaza.

Serangan ini telah menimbulkan kekhawatiran baru di antara negara-negara Arab Teluk Persia, mengingat serangan udara Israel telah meluluhlantakkan Gaza dan meluas hingga ke Iran, Lebanon, Qatar, Suriah, serta Yaman.

Al-Hindi menggambarkan situasi saat ini sebagai “buntu,” dengan tidak adanya usulan baru. Ia juga menyinggung pengakuan negara Palestina oleh sejumlah sekutu Eropa Israel baru-baru ini, yang disebutnya sebagai kemunduran diplomatik bagi Tel Aviv. Namun ia memperingatkan bahwa pengakuan tersebut tidak berarti banyak jika tidak disertai langkah nyata untuk mengakhiri genosida di Gaza dan pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat.

Baca juga: Gelombang Global Pengakuan Palestina; Tekanan Meningkat terhadap Rezim Israel

Pejabat Jihad Islam itu menyerukan negara-negara Barat dan Arab agar meninjau ulang normalisasi hubungan dengan rezim Israel serta mempertimbangkan kembali kerja sama politik, keamanan, dan ekonomi dengan kekuatan pendudukan tersebut.

Mengabaikan kritik internasional, Israel belakangan ini melancarkan invasi besar-besaran ke Kota Gaza. Kampanye genosida di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, menyusul Operasi Banjir Al-Aqsa yang dilancarkan Hamas sebagai respons atas meningkatnya kebrutalan rezim terhadap rakyat Palestina.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa hingga kini setidaknya 65.300 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tewas.
Selain itu, Gaza juga menghadapi kelaparan massal akibat blokade bantuan yang sengaja dilakukan Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *