Jenderal Israel Akui Kerugian Besar dan Kegagalan dalam Perang Genosida di Gaza

genocidal

Al-Quds, Purna Warta – Jenderal Cadangan Israel yang telah pensiun, Yitzhak Brik, mengakui bahwa rezim Tel Aviv telah mengalami lebih dari 2.000 kematian serta puluhan ribu korban luka selama perang dua tahun yang membawa kehancuran, pengungsian, dan penderitaan yang tak terbayangkan bagi warga Palestina di Gaza.

Baca juga: Tentara Israel dan Pemukim Perkeras Pengusiran Paksa Warga Palestina di Seluruh Tepi Barat

Dalam wawancara dengan Channel 13 Israel pada Sabtu, Brik menyatakan, “Selama dua tahun terakhir, kami secara efektif telah melemahkan ketahanan nasional dan sosial kami, dengan biaya mencapai ratusan miliar shekel.”

Jenderal Israel tersebut mengakui bahwa Hamas tidak berhasil dikalahkan oleh Israel dalam perang genosida tersebut.

Ia menambahkan, “Dalam dua tahun terakhir, kami mengalami kerugian yang signifikan,” seraya menyoroti tingginya angka korban tewas serta dampak cedera fisik dan psikologis yang dialami oleh para tentara dan pemukim.

Brik juga menyinggung dampak finansial dan diplomatik dengan mengatakan, “Kami telah kehilangan anggaran, ratusan miliar shekel, serta kredibilitas kami di tingkat global.”

Ia menyebut bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump memandang Israel sebagai pihak yang “stagnan dan tidak mampu mencapai tujuannya,” sehingga mendorongnya untuk turun tangan dan mengambil tindakan.

Saat ini, Israel menghadapi krisis kesehatan mental yang parah dan terus memburuk di kalangan personel militernya. Terjadi peningkatan signifikan kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan bunuh diri, menyusul dua tahun perang genosida di Gaza serta agresi militer yang berkelanjutan terhadap Lebanon dan Suriah.

Informasi terbaru dari apa yang disebut sebagai kementerian keamanan Israel serta para tenaga kesehatan menunjukkan adanya peningkatan hampir 40 persen kasus PTSD sejak September 2023, dengan perkiraan kenaikan hingga 180 persen pada tahun 2028.

Kementerian keamanan Israel mengonfirmasi bahwa dari 22.300 tentara dan personel yang menerima perawatan akibat cedera terkait perang, 60 persen di antaranya mengalami stres pascatrauma. Sebagai respons, kementerian tersebut meningkatkan dukungan dan pendanaan layanan kesehatan mental, termasuk peningkatan penggunaan terapi alternatif sebesar 50 persen.

Dalam laporan tahunan tahun 2025, Maccabi, penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di Israel, mengungkapkan bahwa 39 persen personel militer yang dilayaninya mencari bantuan kesehatan mental, dengan 26 persen melaporkan mengalami gejala depresi.

Baca juga: Analis Amerika Peringatkan Potensi Sabotase Israel terhadap Perundingan Nuklir

Sebuah komite parlemen Israel melaporkan bahwa antara Januari 2024 hingga Juli 2025, sebanyak 279 tentara mencoba bunuh diri, dengan tentara tempur mencakup 78 persen dari kasus tersebut.

Selama dua tahun terakhir, otoritas setempat melaporkan bahwa lebih dari 71.000 warga Palestina telah tewas di Gaza, serta 4.400 orang di Lebanon selatan akibat serangan militer Israel. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 1.100 tentara Israel juga dilaporkan tewas.

Ronen Sidi, seorang psikolog klinis dan pimpinan penelitian veteran tempur di Emek Medical Center, menyatakan bahwa banyak tentara menghadapi apa yang disebut sebagai cedera moral, yakni penderitaan emosional dan psikologis yang berkaitan dengan tindakan mereka selama pertempuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *