Jajak Pendapat: Mayoritas Warga Israel Dukung Penggunaan Kekuatan Mematikan Terhadap Pejuang Perlawanan yang Ditangkap

Israelis

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah jajak pendapat baru mengungkapkan bahwa mayoritas signifikan warga Israel mendukung langkah mematikan terhadap para pejuang perlawanan yang telah ditangkap, serta menolak penyelidikan atas penyiksaan atau pelecehan terhadap tahanan Palestina.

Baca juga: Pemerintah Gaza: Israel Langgar Perjanjian Gencatan Senjata Gaza Hampir 500 kali, Tewaskan 342 Warga Palestina

Dalam sebuah unggahan jajak pendapat di X pada Minggu, analis media Shaiel Ben-Ephraim melaporkan bahwa 62,5% warga Israel percaya bahwa tentara rezim harus diberi kewenangan untuk membunuh pejuang perlawanan bahkan ketika mereka tidak lagi menimbulkan ancaman langsung.

Sementara itu, 60,6% responden berpendapat bahwa tentara tidak boleh diselidiki atas tindakan penyiksaan terhadap tahanan Palestina, dan 84% menilai tinggi moralitas pasukan militer Israel.

Ben-Ephraim menyebut hasil tersebut sebagai bukti adanya “konsensus nasional,” namun tidak mengungkap lembaga survei maupun metodologinya.

Tren serupa juga muncul pada survei-survei sebelumnya. Jajak pendapat Institut Demokrasi Israel (IDI) tahun 2022 menemukan bahwa 55% warga Yahudi Israel mendukung pembunuhan terhadap pelaku yang telah dinetralkan, sementara survei tahun 2024 menunjukkan meningkatnya penolakan terhadap penuntutan pidana terhadap tentara yang dituduh melakukan penyiksaan di pusat-pusat penahanan seperti Sde Teiman.

Hampir tiga perempat responden menilai bahwa perilaku etis militer Israel selama operasi berada pada tingkat tinggi, meskipun warga Arab Israel menunjukkan tingkat kepercayaan yang jauh lebih rendah.

Media Israel arus utama juga melaporkan sikap publik ini dengan pendekatan beragam. Haaretz menyoroti jajak pendapat Juni 2025 yang menunjukkan 82% warga Yahudi Israel mendukung pengusiran warga Gaza, menggambarkannya sebagai “refleksi brutal” dari kelelahan perang dan ketakutan keamanan.

Baca juga: Hamas Bantah Tuduhan Israel Bahwa Pihaknya Meninggalkan Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza Sebagai “Kebohongan Belaka”

The Jerusalem Post menekankan serangan berulang dari pihak Palestina dan berpendapat bahwa ancaman yang telah “dinetralkan” seringkali kembali beraksi.

Media independen +972 Magazine juga mencatat bahwa diskusi mengenai kejahatan perang militer Israel semakin memasuki arus utama, meskipun terdapat dukungan publik yang luas terhadap militer.

Pada Agustus, survei baru dari Pusat aChord Universitas Ibrani mengindikasikan bahwa mayoritas besar warga Israel percaya bahwa “tidak ada warga yang tidak bersalah” di Jalur Gaza, mencerminkan meningkatnya pandangan ekstrem dalam masyarakat Israel.

Data terbaru menggambarkan publik Israel yang secara luas mendukung langkah militer agresif, pengawasan minimal terhadap pasukan, dan keyakinan tinggi pada moralitas militernya — memunculkan pertanyaan mendalam mengenai etika, akuntabilitas, dan arah masa depan kebijakan Israel terhadap Palestina.

Sejak rezim Israel melancarkan perang genosida terhadap warga Palestina di Gaza pada Oktober 2023, sedikitnya 70.000 orang telah terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 170.000 lainnya terluka, sementara sebagian besar infrastruktur di wilayah tersebut hancur menjadi puing-puing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *