Al-Quds, Purna Warta – Pernyataan dan peringatan terbaru Presiden Turki terkait aktivitas Israel di kawasan telah memicu kemarahan Menteri Pertahanan Israel tersebut, yang kemudian menyarankan Erdoğan untuk diam.
Menurut laporan banyak pemberitaan, sebelumnya Erdoğan menuduh Israel melemahkan semua inisiatif yang mengarah pada perang. Ia juga memperingatkan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan provokasi dan sabotase yang dapat menggagalkan kesepakatan.
Katz dalam tanggapannya mengkritik keras Erdoğan dan mengatakan: “Pria Ikhwan yang telah melakukan pembantaian terhadap Kurdi sebaiknya diam.”
Menteri Pertahanan Israel itu juga menuduh Erdoğan tidak merespons “serangan rudal Iran ke wilayah Turki” dan menunjukkan kelemahan, serta menuduhnya menggunakan “antisemitisme” dan mengumumkan “pengadilan palsu” terhadap pejabat politik dan militer Israel di Turki.
Menurut situs Al Nashra, Katz juga menambahkan bahwa Erdoğan, yang ia sebut sebagai “orang Ikhwan Muslimin”, menuduh Israel melakukan genosida, sementara Israel disebut hanya membela diri dari kelompok Hamas.
Ia menegaskan bahwa Tel Aviv akan terus membela diri dengan kekuatan, dan Erdoğan “sebaiknya diam”.
Di sisi lain, Turki pada hari Sabtu mengkritik keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas pernyataannya terhadap Presiden Turki. Ankara menyatakan bahwa Netanyahu “tidak memiliki nilai moral maupun legitimasi untuk menggurui siapa pun.”
Direktur komunikasi Turki Burhanettin Duran melalui platform X mengatakan bahwa Netanyahu, yang disebut telah melakukan genosida di Gaza dan menyerang tujuh negara di kawasan, tidak pantas menyerang Presiden Turki.
Duran menyebut Netanyahu sebagai “penjahat dengan surat perintah penangkapan dan tanpa teman”, serta menegaskan bahwa kebijakannya memperburuk ketidakstabilan kawasan demi mempertahankan kekuasaan.
Ia menambahkan bahwa Netanyahu “pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan terhadap kemanusiaan”.
Turki menegaskan kembali komitmennya untuk melawan “ketidakadilan demi dunia yang lebih adil, damai, dan aman”.
Ketegangan antara Turki dan Israel telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait perang di Gaza dan kebijakan Israel di wilayah Palestina. Pemerintah Turki secara konsisten mengkritik tindakan Israel dan meningkatkan retorika diplomatiknya.
Di sisi lain, Israel menuduh Turki memberikan dukungan politik kepada Hamas, yang dianggap Israel sebagai organisasi yang bertanggung jawab atas serangan terhadap wilayahnya. Perbedaan posisi ini memperburuk hubungan diplomatik kedua negara.
Sejumlah analis internasional menyebut bahwa ketegangan ini juga dipengaruhi oleh dinamika politik domestik masing-masing negara, di mana isu Palestina–Israel sering digunakan sebagai bagian dari strategi politik dalam negeri.
Sementara itu, berbagai organisasi internasional seperti United Nations terus menyerukan deeskalasi dan dialog untuk mencegah konflik politik berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.


