Al-Quds, Purna Warta – Gerakan perlawanan Hamas memperingatkan bahwa rezim Israel berupaya mematahkan tekad para tahanan Palestina melalui pengabaian medis secara sengaja serta penolakan terhadap kebutuhan dasar seperti makanan dan air.
Pejabat Hamas Mahmoud Mardawi pada Senin menyatakan bahwa otoritas Israel memikul tanggung jawab penuh atas dampak eskalasi serius ini, khususnya terkait keselamatan para tahanan, terutama mereka yang lanjut usia dan memiliki masalah kesehatan.
Ia memperingatkan kemungkinan meningkatnya ketegangan di pusat-pusat penahanan seiring kondisi yang terus memburuk.
Mardawi menegaskan bahwa langkah-langkah represif tersebut tidak akan mampu mengendalikan para tahanan, melainkan justru akan memperkuat keteguhan mereka.
Ia menekankan bahwa para tahanan tetap menjadi simbol martabat dan manifestasi hidup dari perlawanan Palestina.
Ia juga menyerukan kepada warga Palestina di Tepi Barat, al-Quds, dan wilayah pendudukan, serta para pendukung di seluruh dunia, untuk meningkatkan upaya publik dan akar rumput dalam mendukung para tahanan, seraya menekankan bahwa mereka tidak boleh ditinggalkan di masa-masa sulit ini.
Sejak perang genosida Israel di Gaza, terjadi peningkatan signifikan jumlah tahanan administratif, yang kini mencapai sekitar 35 persen dari total warga Palestina yang ditahan secara ilegal di fasilitas Israel.
Situasi para tahanan Palestina dalam tahanan Israel menimbulkan kekhawatiran serius akibat standar kebersihan yang tidak memadai.
Selain itu, mereka mengalami penyiksaan, kekerasan, dan penindasan sistematis secara terus-menerus, berdasarkan kesaksian terverifikasi dari mantan tahanan yang disampaikan kepada kelompok hak asasi manusia internasional.
Sebagai bentuk protes atas penahanan yang mereka anggap tidak adil, para tahanan Palestina secara konsisten melakukan aksi mogok makan massal untuk menyuarakan penolakan mereka.


