Al-Quds, Purna Warta – Iran bersama sejumlah negara dan organisasi Islam serta Arab mengecam pernyataan duta besar Amerika Serikat untuk wilayah pendudukan, yang menyiratkan bahwa Israel memiliki hak untuk memperluas pendudukannya ke sebagian besar Asia Barat.
Kecaman tersebut muncul setelah Huckabee dalam wawancara yang dirilis Jumat mengatakan bahwa akan “baik-baik saja” jika Israel mengambil seluruh wilayah antara Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Suriah dan Irak.
“Tidak masalah jika mereka mengambil semuanya,” kata Huckabee ketika ditanya tentang ambisi rezim tersebut yang berulang kali disampaikan untuk memperluas wilayah dari Nil hingga Efrat.
Huckabee merujuk pada apa yang ia sebut sebagai “tanah yang dijanjikan” dalam Alkitab untuk membenarkan ambisi ekspansionis tersebut. Namun Carlson menyatakan bahwa batas-batas itu milik keturunan Nabi Ibrahim, termasuk Yahudi, Kristen, dan Muslim.
Ketika ditanya apakah ia menyetujui pengambilalihan seluruh kawasan Asia Barat oleh Tel Aviv, Huckabee menjawab, “Mereka tidak ingin mengambil alih. Mereka tidak meminta untuk mengambil alih,” seraya menambahkan, “Jika mereka akhirnya diserang oleh semua tempat ini, dan mereka memenangkan perang itu, lalu mereka mengambil tanah tersebut, itu pembahasan yang berbeda.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa pernyataan Huckabee merupakan “bukti nyata keterlibatan aktif Amerika dalam perang agresi ekspansionis rezim Israel serta genosida kolonial terhadap rakyat Palestina.”
Ia juga memperingatkan bahwa “retorika ideologis ekstremis” dari utusan AS tersebut akan semakin mendorong rezim perampas untuk “terus melakukan kejahatan dan langkah-langkah ilegal terhadap rakyat Palestina serta agresi berkelanjutan terhadap bangsa-bangsa di kawasan.”
Secara serupa, Qatar, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Bahrain, Lebanon, Suriah, dan Palestina—bersama Organisation of Islamic Cooperation (OKI), Gulf Cooperation Council (GCC), dan Arab League—mengecam komentar diplomat AS tersebut sebagai “berbahaya dan provokatif.”
Dalam pernyataan bersama, mereka menyebut pernyataan Huckabee sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas kawasan.”
Mereka juga menegaskan bahwa “Israel sama sekali tidak memiliki kedaulatan atas Wilayah Palestina yang Diduduki maupun atas tanah Arab lainnya yang diduduki.”
Selain itu, mereka memperingatkan bahwa kelanjutan kebijakan ekspansionis dan langkah-langkah ilegal Israel hanya akan “memperburuk kekerasan dan konflik” di kawasan serta merusak prospek perdamaian.
Mereka juga menegaskan kembali komitmen terhadap hak rakyat Palestina yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasib sendiri, pembentukan negara merdeka berdasarkan perbatasan 1967, serta pengakhiran pendudukan Israel atas seluruh tanah Arab.
Sebelumnya, beberapa negara Arab juga telah mengeluarkan kecaman secara terpisah terhadap pernyataan duta besar AS tersebut.
Kementerian Luar Negeri Palestina menyebut komentar Huckabee sebagai “provokatif dan tidak dapat diterima,” dan menilai bahwa pernyataan itu merupakan seruan langsung untuk “melanggar kedaulatan negara serta mendukung pendudukan yang sedang berlangsung, pembersihan etnis, pengusiran, dan rencana ekspansionis” terhadap rakyat Palestina.
Arab Saudi menyebut pernyataan utusan AS itu sebagai “ceroboh” dan “tidak bertanggung jawab,” sementara Kuwait menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap hukum internasional.
Yordania mengecam komentar tersebut sebagai “serangan terhadap kedaulatan negara-negara kawasan,” dan Oman menyatakan bahwa pernyataan itu mengancam stabilitas regional.
Pada November 2024, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penunjukan Huckabee sebagai duta besar untuk wilayah pendudukan, Huckabee menyatakan dukungannya terhadap aneksasi Tepi Barat yang diduduki oleh Israel.
Pada 2008, ia bahkan mempertanyakan identitas Palestina, dengan menyatakan, “Sebenarnya tidak ada yang disebut sebagai Palestina.”


