Hati Kecil di Balik Perlintasan Tertutup; Pasien Gaza dalam Kepungan Tanpa Akhir

Boom Palestin

Gaza, Purna Warta – Menurut laporan Pusat Informasi Palestina, ibu Mohammad hanya memiliki satu harapan: dibukanya kembali Perlintasan Rafah. Ia mengatakan para dokter telah memperingatkan bahwa jika  perlintasan terus tertutup, kemungkinan besar anaknya tidak akan bertahan lebih dari lima bulan. Meski demikian, nama Mohammad masih tercantum dalam daftar tunggu panjang yang nyaris tidak menunjukkan pergerakan.

Baca juga: PBB: Pembatasan Menghambat Sampainya Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

Kisah Mohammad bukanlah pengecualian; ia mencerminkan penderitaan ribuan pasien yang terjebak di balik pintu-pintu perlintasan yang tertutup, dengan napas yang kian tersengal. Ribuan warga Palestina menanti kesempatan berobat ke luar Gaza, sementara kehancuran sistem layanan kesehatan, pembatasan masuknya bahan bakar, obat-obatan, dan peralatan medis, terus memperparah penderitaan para pasien dan korban luka dari hari ke hari.

Meski telah berlalu lebih dari dua bulan sejak penerapan gencatan senjata, perlintasan—terutama Perlintasan Rafah—masih tertutup. Kekurangan parah obat-obatan dan perlengkapan vital mengancam nyawa ribuan orang. Pasien kanker, penderita penyakit kronis, pasien jantung dan ginjal, bayi prematur, serta korban luka perang kini berdiri dalam satu antrean panjang dengan ujung yang tak pasti. Seorang pasien berkata, “Kami tidak lagi menunggu pengobatan; kami menunggu giliran kematian.”

Sumber-sumber medis mengonfirmasi bahwa lebih dari 60 persen rumah sakit di Gaza telah keluar dari layanan akibat pemboman dan kelangkaan bahan bakar, sementara fasilitas yang tersisa pun beroperasi dengan kapasitas minimal. Seorang dokter menyatakan bahwa setiap jam yang berlalu menambah beban penderitaan pasien dan meningkatkan risiko kematian—bukan hanya karena beratnya penyakit, tetapi juga karena ketiadaan perawatan.

Baca juga: Peneliti Inggris: Israel Sedang Menuju Keruntuhan

Dalam konteks ini, Zaher al-Wahidi, Direktur Unit Informasi Kesehatan di Kementerian Kesehatan Gaza, mengungkapkan bahwa lebih dari 19.500 pasien telah menyelesaikan proses rujukan medis dan kini menunggu keberangkatan, sementara sudah lama tidak ada satu pun pasien yang dievakuasi keluar dari Gaza. Menurutnya, dengan mekanisme saat ini—yang hanya mengizinkan 100 hingga 150 pasien keluar per bulan—pemindahan seluruh pasien akan memakan waktu 10 hingga 15 tahun, sebuah perkiraan yang tidak realistis dan mencerminkan kedalaman bencana kemanusiaan. Ia juga melaporkan lebih dari 1.122 pasien meninggal dunia akibat penutupan perlintasan, serta mendesak tindakan segera dari lembaga internasional untuk membuka Rafah dan memungkinkan masuknya obat-obatan serta peralatan medis.

Sejak dimulainya perang, tentara rezim Zionis Israel secara langsung menargetkan sistem layanan kesehatan Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 70 persen rumah sakit dan pusat kesehatan telah lumpuh. Data Kantor Media Pemerintah Gaza juga mencatat penyerangan terhadap 37 rumah sakit, 80 pusat kesehatan, dan 162 fasilitas medis, termasuk kompleks medis al-Shifa, Kamal Adwan, Rumah Sakit Indonesia, al-Awda, dan Nasser, yang kini bahkan tidak mampu memberikan layanan minimal.

Kisah Mohammad adalah potret ringkas dari realitas ini: nyawa yang tergantung pada perlintasan yang tertutup, sistem kesehatan yang runtuh, dan pasien-pasien yang membayar harga kebijakan dengan tubuh mereka sendiri. Pertanyaan pun tetap menggantung tanpa jawaban: berapa banyak lagi anak yang harus mendekati ambang kematian sebelum jalan menuju pengobatan benar-benar dibuka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *