Hamas: Klaim Israel soal Pelanggaran Gencatan Senjata Dimaksudkan untuk “Membenarkan Pembantaian” di Gaza

Hamas

Al-Quds, Purna Warta – Gerakan Hamas dengan tegas menolak klaim Israel yang menyebut pemboman terbaru di Gaza sebagai “respons” atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh gerakan perlawanan Palestina. Hamas menegaskan bahwa tuduhan tersebut “tidak lebih dari upaya terang-terangan dan menyedihkan untuk membenarkan pembantaian mengerikan terhadap warga sipil” di wilayah pesisir tersebut.

Baca juga: Pergerakan Berbahaya Permukiman Ilegal Israel di Tepi Barat

Dalam pernyataan pada Sabtu, juru bicara Hamas Hazem Qasem mengatakan, “Klaim-klaim yang tidak berdasar dan rapuh ini menegaskan sikap meremehkan pihak pendudukan [Israel] terhadap para mediator, negara-negara penjamin, serta seluruh pihak yang terlibat dalam apa yang disebut sebagai Dewan Perdamaian.”

Ia menyerukan kepada komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan organisasi-organisasi hak asasi manusia untuk “secara tegas mengecam pembantaian Israel di Gaza, mengambil langkah-langkah nyata untuk menghentikannya, meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel atas kejahatan mereka, serta mengakhiri kebijakan impunitas yang mendorong pembunuhan dan kehancuran lebih lanjut.”

Menurut sumber-sumber Palestina di Gaza, Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata lebih dari 1.300 kali sejak diberlakukan pada Oktober tahun lalu. Sejak saat itu, sedikitnya 509 warga Palestina tewas dan 1.405 lainnya terluka akibat serangan pasukan Israel.

Sumber-sumber tersebut menyoroti bahwa warga sipil telah menjadi sasaran tembakan sebanyak 430 kali. Selain itu, kawasan permukiman diserbu sebanyak 66 kali melampaui apa yang disebut sebagai “garis kuning”.

Properti milik warga Palestina di Gaza juga telah dihancurkan dalam sekitar 200 insiden. Sedikitnya 50 warga Palestina diculik selama sebulan terakhir.

Menurut sumber medis, sedikitnya 31 warga Palestina, termasuk sedikitnya enam anak, tewas akibat serangan Israel di Kota Gaza dan Khan Younis di Jalur Gaza sejak dini hari.

Kekerasan ini terjadi sehari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah—yang menghubungkan Gaza dengan Mesir—pada Minggu, untuk pertama kalinya sejak Mei 2024.

Kampanye genosida yang dimulai pada Oktober 2023 dan berlangsung hampir dua tahun telah menewaskan sedikitnya 71.769 warga Palestina serta melukai 171.483 orang lainnya.

Kehancuran meluas akibat perang tersebut mencakup kerusakan atau penghancuran sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.

Baca juga: Bom Dokumen Epstein: Tuduhan Serius Terkait Perilaku Trump terhadap Anak di Bawah Umur

Gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada Oktober lalu. Namun demikian, wilayah yang hancur akibat perang itu masih bergulat dengan dampak pascaperang, memburuknya kondisi kesehatan, serta kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *