Al-Quds, Purna Warta – Hamas mengecam keras tindakan seorang menteri ultra-kanan Israel yang secara langsung menyerahkan surat-surat perintah pembongkaran dan evakuasi kepada keluarga-keluarga Badui Palestina di wilayah Negev.
Baca juga: Pejabat Gaza Peringatkan Ribuan Jenazah Masih Tertimbun Puing, Desak Intervensi Internasional
Dalam langkah yang sangat provokatif itu, Menteri ekstremis Itamar Ben-Gvir secara pribadi mengantarkan surat perintah penghancuran dan evakuasi kepada keluarga Badui di Negev, memicu kecaman luas.
Dalam pernyataannya pada Kamis, Hamas menyebut tindakan Ben-Gvir tersebut sebagai contoh nyata terorisme terorganisir dan arogansi yang dijalankan rezim Israel.
Hamas menyeru masyarakat luas dan organisasi lokal untuk bersolidaritas dengan warga Badui di Naqab dan wilayah lain yang terdampak kebijakan tersebut.
Gerakan itu menambahkan bahwa praktik intimidasi Israel terhadap komunitas Badui—dan ancaman kehilangan tempat tinggal—menjadi mata rantai lain dalam rangkaian penyalahgunaan sistematis dan diskriminasi rasial yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.
Hamas juga menegaskan bahwa tindakan itu sekaligus menunjukkan bahwa rezim Tel Aviv adalah sponsor ekstremisme dan penindasan dalam segala bentuknya.
Hamas memperingatkan konsekuensi dari berlanjutnya kebijakan represif dan fasis Israel.
Gerakan itu menyerukan masyarakat internasional dan lembaga hak asasi manusia untuk segera bertindak guna mencegah rezim melanjutkan rencana pembongkaran dan pengusiran rumah warga Palestina.
Sementara itu, pasukan Israel terus menghancurkan rumah warga Palestina di Gaza meski tengah berlaku gencatan senjata antara kedua pihak yang bertikai.
Sejak Oktober 2023, penembakan dan serangan udara Israel terus meratakan rumah-rumah warga Palestina, rumah sakit, serta jaringan air di seluruh Gaza, menyebabkan infrastruktur wilayah itu porak-poranda.
Warga Gaza hingga kini juga masih menghadapi kekurangan parah bahan pangan, air, obat-obatan, dan pasokan penting lainnya akibat penutupan perlintasan oleh Israel serta pembatasan masuknya komoditas ke Jalur Gaza.
Baca juga: Perang Genosida Israel Jadikan 288.000 Keluarga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas akibat perang genosidal Israel telah melampaui 68.875 jiwa.
Gencatan senjata yang ditengahi AS mulai berlaku pada 10 Oktober. Namun Israel telah melakukan lebih dari 200 pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut, menurut Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza.


