Hamas Kecam Ancaman Israel untuk Hancurkan Perlawanan, Soroti Pelanggaran Gencatan Senjata

Hamas Israel

Al-Quds, Purna Warta – Hamas mengecam ancaman berulang Israel untuk melenyapkan gerakan perlawanan, seraya menyatakan bahwa pelanggaran yang terus berlangsung terhadap gencatan senjata Gaza mencerminkan pengabaian total terhadap perjanjian internasional dan upaya diplomatik untuk menghentikan genosida.

Dalam pernyataannya pada Selasa, juru bicara Hamas Hazem Qassem mengkritik pernyataan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich yang kembali menegaskan bahwa tujuan Israel tetap “menghancurkan Hamas” serta menyarankan agar Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberi ruang untuk bertindak “dengan caranya sendiri.”

Qassem mengatakan pernyataan tersebut menunjukkan pengabaian terang-terangan Israel terhadap proses politik dan perundingan internasional, serta menegaskan perlunya pembelaan terhadap kehidupan dan kedaulatan rakyat Palestina.

Ia menyebut kembali mencuatnya wacana perang sebagai bentuk perang psikologis, setelah dua tahun genosida di Gaza yang menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan kehancuran luas, namun gagal mencapai tujuan yang dinyatakan Israel untuk mematahkan perlawanan Palestina.

Juru bicara itu menambahkan bahwa agresi militer dan ancaman yang terus dilontarkan Israel menunjukkan upaya yang disengaja untuk menggagalkan gencatan senjata dan meningkatkan tekanan terhadap penduduk Palestina.

Qassem menyerukan komunitas internasional untuk menjatuhkan sanksi terhadap Israel. Ia menyambut pernyataan bersama 20 negara yang mengecam langkah terbaru Israel dalam memperketat kontrol atas Tepi Barat yang diduduki, seraya menegaskan bahwa kebijakan semacam itu hanya memperdalam ketidakstabilan dan penindasan di kawasan.

Terkait tata kelola di Gaza, Qassem menyatakan bahwa Hamas sejak awal telah menyetujui pembentukan komite administratif Gaza dan tetap siap menyerahkan tanggung jawab melalui koordinasi dengan faksi-faksi Palestina, di bawah pengawasan perwakilan masyarakat sipil dan pihak internasional.

Ia menyebut keterlambatan yang terjadi disebabkan oleh hambatan dari pihak Israel serta kurangnya dukungan politik dan finansial dari negara-negara penjamin.

Menanggapi pernyataan menteri luar negeri Otoritas Palestina (PA) mengenai kesiapan mengambil alih kendali Gaza, Qassem mengecam PA karena hanya membatasi diri pada pernyataan media tanpa langkah konkret, serta dinilai telah menyia-nyiakan peluang sebelumnya untuk membangun mekanisme persatuan.

Qassem juga mengecam komentar Duta Besar Amerika Serikat untuk Palestina yang diduduki, Mike Huckabee, sebagai sebuah “skandal” dalam kebijakan luar negeri AS.

Dalam wawancara yang dirilis Jumat lalu, Huckabee mengatakan bahwa akan “baik-baik saja” jika Israel menduduki seluruh wilayah antara Sungai Nil di Mesir dan Sungai Eufrat di Suriah dan Irak.

Sejak 7 Oktober 2023, perang genosida Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *