Al- Quds, Purna Warta – Menurut laporan jaringan Al-Masirah TV, Hazem Qassem, juru bicara Hamas, menyatakan bahwa kelanjutan serangan Israel di Jalur Gaza, termasuk serangan terbaru di kamp Al-Bureij, mencerminkan perlunya komitmen penuh rezim Israel terhadap tahap awal perjanjian gencatan senjata.
Ia menyebut serangan tersebut, yang menewaskan enam orang, sebagai “kejahatan mengerikan”, dan menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari perang yang masih terus berlangsung meskipun ada klaim mengenai keberlanjutan gencatan senjata.
Qassem menambahkan bahwa perkembangan ini menegaskan keabsahan tuntutan kelompok-kelompok perlawanan Palestina agar Israel diwajibkan melaksanakan seluruh komitmen tahap pertama, termasuk menghentikan pelanggaran, sebelum memasuki tahap kedua.
Juru bicara Hamas juga menyatakan bahwa perilaku Israel menunjukkan ketidakpedulian penuh terhadap upaya mediator dan negara-negara penjamin, serta mengabaikan seruan untuk menghentikan operasi militer dan mematuhi isi kesepakatan.
Perkembangan terkait perundingan dan situasi kemanusiaan
Serangan-serangan ini terjadi di tengah kedatangan delegasi tingkat tinggi Hamas ke Cairo pada hari Sabtu untuk membahas tanggapan terhadap proposal tahap kedua perundingan gencatan senjata dengan Israel.
Enam bulan setelah diberlakukannya gencatan senjata, meskipun intensitas pertempuran menurun, kondisi umum di Gaza masih berada dalam situasi krisis dan hampir tidak menunjukkan perbaikan.
Sebuah laporan dari lima organisasi bantuan internasional menunjukkan bahwa rencana gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat belum berhasil dari sisi kemanusiaan.
Menurut laporan tersebut:
- Pada awal Maret, jumlah truk bantuan yang masuk menurun sekitar 80%.
- Harga kebutuhan pokok meningkat tajam.
- Proses evakuasi pasien untuk pengobatan hampir terhenti.
Selain itu, warga Gaza masih menghadapi berbagai masalah seperti pencemaran lingkungan, penyebaran penyakit, serta tidak adanya perbaikan dalam kondisi kehidupan sehari-hari.
Korban dan situasi keamanan
Meskipun perang skala besar telah berkurang, beberapa wilayah masih mengalami serangan udara dan penembakan.
Berdasarkan data resmi:
Dalam enam bulan setelah gencatan senjata, 738 orang dilaporkan tewas.
Total korban sejak dimulainya konflik pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 72.000 orang.


