Gaza, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina, Hamas, dengan tegas menolak tuduhan Israel bahwa pihaknya telah menarik diri dari perjanjian gencatan senjata Gaza, menyebutnya sebagai “kebohongan belaka” yang diproduksi oleh aparat propaganda rezim tersebut.
Baca juga: Puluhan Ribu Orang Gelar Aksi di Tel Aviv Menuntut Penyelidikan atas Peristiwa 7 Oktober
Dalam sebuah wawancara pada Sabtu, pejabat senior Hamas Moussa Mohammed Abu Marzouk mengatakan bahwa gerakan perlawanan hanya berfokus pada pelaksanaan gencatan senjata secara tepat dan penghentian serangan genosida Israel di Gaza.
Ia menegaskan bahwa klaim apa pun yang menyatakan Hamas melanggar gencatan senjata atau berencana meninggalkannya adalah “kebohongan belaka” yang sengaja disebarkan oleh rezim untuk membenarkan kekejaman yang terus dilakukan di seluruh Jalur Gaza.
Pernyataan serupa disampaikan anggota biro politik Hamas, Izzat al-Risheq, setelah Israel membunuh 24 warga Palestina dalam serangan pada Sabtu, dengan secara keliru mengklaim bahwa serangan itu terjadi setelah dugaan serangan seorang pejuang Hamas terhadap tentara Israel di dalam apa yang disebut sebagai garis kuning Gaza.
“Israel sedang mengarang dalih untuk menghindari kesepakatan dan kembali pada perang pemusnahannya, sementara pihak yang melanggar kesepakatan setiap hari dan secara sistematis justru adalah Israel sendiri,” ujar al-Risheq.
Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel, yang mulai berlaku pada 10 Oktober, mengharuskan rezim pendudukan untuk segera menghentikan perang genosidanya di Gaza dan mengizinkan masuknya bantuan serta makanan ke wilayah terkepung tersebut sebagai imbalan atas pengembalian para tawanan mereka.
Namun, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata itu sedikitnya 497 kali sejak 10 Oktober, menewaskan sedikitnya 342 warga sipil, yang mayoritas terdiri dari anak-anak, perempuan, dan lansia.
Lebih jauh, rezim pendudukan terus membatasi secara ketat aliran bantuan dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan ke wilayah yang telah hancur tersebut.
Baca juga: Bocoran Percakapan Rahasia Netanyahu selama Perang Gaza; Peran UEA dalam Mendukung Tel Aviv
“Kami mengutuk sekeras-kerasnya pelanggaran serius dan sistematis yang terus dilakukan otoritas pendudukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata,” kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.
Kantor itu juga menyatakan bahwa Israel memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi kemanusiaan dan keamanan dari pelanggaran-pelanggarannya.
Sejak melancarkan serangan genosidanya di Gaza pada 7 Oktober 2023, rezim tersebut telah membunuh sedikitnya 69.500 warga Palestina dan melukai sedikitnya 179.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak.


