Al-Quds, Purna Warta – Dokumen yang baru dirilis mengungkap bahwa mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak pernah meminta bantuan Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang telah divonis, untuk mengatur wawancara antara Donald Trump, yang saat itu mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, dengan media Israel.
Di antara lebih dari tiga juta halaman dokumen yang dipublikasikan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat terkait penyelidikan terhadap Epstein, terdapat sebuah surel tertanggal 7 September 2016 yang dikirim oleh politisi Israel tersebut kepada Epstein, seorang pemodal Amerika yang juga dikenal sebagai pelaku perdagangan manusia.
Korespondensi itu dikirim pada saat Trump dan Hillary Clinton tengah bersaing dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Dalam surelnya, Barak menyebutkan bahwa sebuah wawancara eksklusif dengan Clinton telah diatur oleh Channel 2, stasiun televisi Israel. Ia kemudian meminta Epstein untuk menilai apakah Trump bersedia mengikuti wawancara serupa dengan Channel 10, yang menurutnya akan menarik perhatian “sebagian besar warga Israel dan mayoritas warga negara Amerika yang tinggal di Israel.”
Barak juga menulis bahwa Channel 10 bersedia mengirimkan “pembawa acara utama mereka, seorang perempuan pirang yang berbakat dan berkepribadian ceria,” ke Amerika Serikat untuk melakukan wawancara tersebut.
Pada hari Jumat, Departemen Kehakiman AS merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen yang berkaitan dengan kasus Epstein.
Salah satu dokumen tersebut adalah memo FBI yang telah dideklasifikasi, yang menyatakan bahwa Trump disebut-sebut telah “dikompromikan oleh Israel.”
Memo tersebut disusun pada tahun 2020 dalam rangka penyelidikan FBI terkait dugaan pengaruh domestik dan asing yang tidak semestinya terhadap proses pemilu Amerika Serikat.
Menurut dokumen itu, Chabad-Lubavitch—yang digambarkan sebagai sekte Zionis ultra-Ortodoks—berupaya memberikan pengaruh terhadap masa jabatan pertama Trump sebagai presiden.
Memo tersebut juga mengidentifikasi Jared Kushner, menantu Trump, sebagai pendukung Chabad-Lubavitch.
Lebih lanjut disebutkan bahwa Epstein bekerja untuk badan intelijen Amerika Serikat dan asing, termasuk Mossad, badan intelijen Israel.
Trump, yang kemudian membantah memiliki hubungan dekat dengan Epstein, disebutkan lebih dari 1.000 kali dalam tiga juta dokumen terkait Epstein yang baru dirilis tersebut.
Pada tahun 2019, Epstein ditemukan tewas di dalam sel penjaranya di New York City, saat ia ditahan sambil menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan manusia untuk tujuan seksual.


