Gaza, Purna Warta – Jalur Gaza kembali menyaksikan hari berdarah pada Senin, ketika lima warga Palestina—termasuk seorang anak berusia tiga tahun—gugur dan sejumlah lainnya terluka akibat pelanggaran intensif Israel terhadap perjanjian gencatan senjata. Pelanggaran tersebut mencakup pengeboman laut terhadap tenda-tenda pengungsi di kawasan al-Mawasi, Khan Younis; serangan terhadap rumah duka di Kamp Pengungsi Nuseirat; serta tembakan gencar di wilayah timur Jabalia dan Khan Younis. Eskalasi ini menegaskan ketidakpatuhan pendudukan terhadap gencatan senjata dan memicu ketakutan luas di kalangan warga dan pengungsi.
Sumber-sumber medis mengonfirmasi gugurnya bocah Iyad Ahmad Naeem al-Rubay‘a akibat serangan kapal perang pendudukan, serta kematian Ahmad Ayman Khamis dan warga Ramadan Dardouna di lokasi berbeda. Sejumlah warga juga dilaporkan terluka akibat tembakan pasukan pendudukan di sekitar Bundaran Bani Suhaila dan Lapangan Enam Syuhada. Selain itu, kendaraan militer Israel dilaporkan melakukan pergerakan ke wilayah timur Jabalia sambil melepaskan tembakan ke arah tenda-tenda pengungsi, yang menyoroti berlanjutnya pelanggaran harian meski telah ada kesepakatan.
Mengusir Doctors Without Borders dengan Dalih untuk Menghambat Bantuan Kemanusiaan dan Medis
Dalam konteks terkait, organisasi Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières/MSF) menilai keputusan pendudukan untuk mengakhiri seluruh aktivitasnya di Gaza paling lambat pada 28 Februari sebagai “dalih yang jelas” untuk menghambat masuknya bantuan kemanusiaan dan medis. MSF menegaskan penolakan mereka untuk menyerahkan daftar lengkap nama staf Palestina tanpa adanya jaminan keselamatan, seraya menyatakan bahwa pendudukan menempatkan organisasi kemanusiaan pada pilihan yang mustahil: mempertaruhkan keselamatan para pekerja atau menghentikan layanan penyelamatan nyawa.
Organisasi tersebut menjelaskan bahwa sepanjang 2025 mereka telah memberikan sekitar 800.000 konsultasi medis, berkontribusi pada satu dari setiap tiga persalinan, serta mendukung satu dari setiap lima tempat tidur rumah sakit. MSF memperingatkan bahwa pengusiran paksa mereka akan berdampak sangat merusak terhadap sistem kesehatan yang sudah runtuh, terutama mengingat gugurnya 15 staf MSF dan 1.700 tenaga kesehatan sejak Oktober 2023, di tengah penangkapan dan serangan yang terus berulang.
Perkembangan ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang berkelanjutan, di mana pelanggaran militer dan langkah-langkah administratif represif semakin memperparah penderitaan warga Gaza. Seruan Palestina dan internasional terus menguat untuk segera menghentikan agresi, menjamin perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan, serta mencabut blokade agar bantuan medis dan kemanusiaan dapat mengalir tanpa hambatan.


