Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan Russia Today (RT Arabic), ribuan warga Israel pada Sabtu malam mengikuti demonstrasi besar-besaran menentang pemerintahan Netanyahu. Para demonstran mendesak pembentukan sebuah komite investigasi independen guna menyelidiki kegagalan Israel dalam mencegah Operasi Badai Al-Aqsa, yang oleh pihak Zionis disebut sebagai “serangan 7 Oktober 2023”.
Baca juga: Sejumlah Warga Palestina Terluka dalam Serangan Terkoordinasi Pemukim di Seluruh Tepi Barat
Perlawanan Palestina yang dipimpin oleh Hamas pada dini hari 7 Oktober 2023 (15 Oktober 2023) melancarkan operasi kejutan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyerang permukiman Zionis di sekitar Jalur Gaza. Dalam operasi tersebut, para pejuang Palestina berhasil menguasai sejumlah pangkalan militer Israel serta menawan puluhan warga Zionis.
Usai dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa, otoritas rezim Zionis pada hari yang sama melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah di Jalur Gaza. Langkah ini diambil dengan asumsi bahwa kelompok-kelompok perlawanan Palestina dapat dihancurkan dalam hitungan hari, sehingga Gaza dapat sepenuhnya dikuasai.
Namun sejak 7 Oktober 2023 (15 Oktober 2023), Israel justru terlibat dalam perang penghancuran berskala luas terhadap Jalur Gaza. Selama agresi tersebut, lebih dari 71.000 warga Palestina gugur, sementara sekitar 70 persen rumah tinggal dan infrastruktur Gaza mengalami kerusakan berat.
Baca juga: Israel Menghapus Hambatan Hukum Utama bagi Pertumbuhan Permukiman di Tepi Barat
Blokade yang berkepanjangan, krisis kemanusiaan akut, serta kondisi kelaparan dan kekurangan pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya kini mengancam nyawa penduduk Gaza.
Meski seluruh kehancuran dan kejahatan tersebut telah berlangsung selama lebih dari 12 bulan, rezim Zionis sendiri mengakui bahwa mereka belum berhasil mencapai tujuan utama perang, yakni menghancurkan gerakan Hamas dan membebaskan para tawanan Zionis dari Jalur Gaza.


