Al-Quds, Purna Warta – Wala News Agency, outlet berita Israel, melaporkan bahwa cadangan rudal interceptor Israel tidak cukup untuk menghadapi rudal Iran jika terjadi konflik luas antara Teheran dan Washington. Surat kabar Yedioth Ahronoth memperingatkan bahwa Tel Aviv bisa lumpuh dan kemampuan pertahanan Israel akan menurun jika konflik langsung semacam itu terjadi.
Israel telah menggunakan sebagian besar sistem interceptor-nya tidak hanya menghadapi serangan dari Yaman dan Iran, tetapi juga dalam operasi militer terhadap Gaza dan Hezbollah. Hal ini menciptakan “celah besar” jika terjadi konfrontasi langsung dengan Teheran. Beberapa pesawat tempur Israel bahkan menahan diri untuk tidak meluncurkan rudal karena keterbatasan persediaan, sehingga Kementerian Pertahanan Israel meminta peningkatan pasokan.
Wala menekankan bahwa Amerika Serikat menghadapi situasi serupa dengan persediaan rudal Patriot-nya, yang menurun setelah dikirim untuk mendukung Ukraina. Hal ini menempatkan pemerintah AS pada dilema strategis: apakah rudal tersebut disediakan untuk Israel dan Ukraina, atau disimpan untuk kemungkinan konfrontasi lain. Outlet tersebut juga mencatat bahwa peningkatan produksi rudal dapat menurunkan harga, tetapi akses terbatas terhadap amunisi ofensif AS berarti Amerika Serikat saat ini tidak dapat melancarkan serangan besar tanpa pasokan baru.
Kondisi ini menambah ketegangan regional yang sudah tinggi. Kepala militer Israel, Eyal Zamir, secara pribadi memperingatkan bahwa perang potensial dengan Iran dapat menyebabkan serangan rudal menghancurkan dari Iran, Lebanon, Yaman, dan Irak, serta berdampak besar pada ekonomi Israel. Publik Israel khawatir bahwa konflik baru bisa menimbulkan kehancuran lebih besar daripada perang sebelumnya, sementara ratusan pemukim masih belum kembali ke pemukiman mereka setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran.
Di Jalur Gaza dan Tepi Barat, pasukan Israel terus melancarkan serangan udara, drone, dan darat, menewaskan dan melukai warga Palestina, serta menyerbu rumah warga. Pemukim Israel juga menyerbu rumah-rumah warga Palestina di beberapa area.
Di tengah tekanan militer ini, aktivis internasional meluncurkan Global Sumud Flotilla (Freedom and Sumud Flotilla), armada sipil hingga 200 kapal yang dijadwalkan berangkat pertengahan April 2026 dari pelabuhan Mediterania. Flotilla ini membawa ribuan peserta dari 150 negara, termasuk tenaga medis, insinyur, pengacara, penyelidik kejahatan perang, dan pasokan penting. Konvoi darat juga direncanakan untuk menantang blokade Israel dan menegaskan hak warga Palestina atas akses perairan dan pergerakan bebas.
Selain itu, Presiden Israel Isaac Herzog melakukan kunjungan ke Ethiopia untuk memperluas pengaruh Israel di Afrika, termasuk kerja sama strategis dan teknologi, serta terkait pengakuan Israel terhadap Somaliland, yang dapat berfungsi sebagai pangkalan militer Israel di Teluk Aden. Keputusan ini memicu kecaman dari Somalia, Organisasi Kerja Sama Islam, dan beberapa negara Arab dan Afrika.
Gabungan tekanan militer, keterbatasan persediaan rudal, serangan berulang di Gaza dan Tepi Barat, serta eskalasi diplomatik di Afrika menunjukkan kompleksitas ketegangan regional yang mengancam keamanan, stabilitas, dan kemanusiaan, sambil memicu solidaritas global untuk perlindungan warga sipil Palestina.


