Bentrokan Antara Polisi Israel dan Kelompok Haredi Menyebabkan 15 orang Ditangkap

Polisi

Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan The Jerusalem Post, aksi demonstrasi anti-wajib militer oleh kelompok Haredi berujung pada bentrokan dengan aparat kepolisian.

The Jerusalem Post menulis bahwa para demonstran mencoba memblokir jalan dengan berbaring di jalan raya serta meneriakkan “slogan-slogan kebencian” kepada petugas yang berada di lokasi.

Polisi Israel pada Minggu pagi mengumumkan bahwa sedikitnya 15 demonstran ultra-Ortodoks ditangkap di depan kantor perekrutan militer Israel di Tel Hashomer saat hari pengiriman wajib militer.

Dua demonstran lainnya juga ditangkap dalam aksi terpisah di dekat kantor perekrutan militer di Yerusalem.

Para demonstran berusaha menghalangi kendaraan dengan berbaring di jalan serta menghina aparat kepolisian dan meneriakkan slogan-slogan keras.

Sejak dimulainya perang di Gaza, Israel Defense Forces menghadapi kekurangan personel, sebagian akibat penolakan atau keengganan sebagian warga untuk ikut serta dalam perang. Hal ini memicu ketegangan besar terkait rencana wajib militer bagi komunitas Haredi.

Populasi Haredi di Israel diperkirakan mencapai sekitar 1,3 juta orang, atau sekitar 13–14 persen dari total populasi. Salah satu sumber utama konflik antara komunitas ini dan pemerintah Israel adalah isu wajib militer.

Ketegangan antara komunitas Haredi dan pemerintah Israel bukanlah hal baru. Selama beberapa dekade, banyak pria Haredi memperoleh pengecualian dari wajib militer karena alasan agama, khususnya untuk fokus pada studi kitab suci di yeshiva. Namun, kebijakan ini semakin diperdebatkan di tengah meningkatnya kebutuhan militer, terutama sejak pecahnya Perang Gaza.

Mahkamah Agung Israel dalam beberapa putusan sebelumnya telah menilai bahwa pengecualian luas terhadap Haredi tidak adil bagi kelompok masyarakat lainnya, sehingga mendorong pemerintah untuk mereformasi sistem wajib militer. Hal ini memicu gelombang protes besar dari komunitas ultra-Ortodoks yang menilai kebijakan tersebut sebagai ancaman terhadap gaya hidup religius mereka.

Di sisi lain, masyarakat sekuler di Israel semakin menuntut “pembagian beban” yang lebih adil dalam kewajiban militer. Perdebatan ini juga berdampak pada stabilitas politik domestik, karena partai-partai Haredi sering menjadi bagian penting dalam koalisi pemerintahan.

Sejumlah laporan media internasional juga menyebutkan bahwa meningkatnya konflik internal ini dapat memengaruhi kesiapan militer Israel, terutama ketika menghadapi tekanan keamanan di berbagai front. Selain itu, aksi-aksi protes yang berujung bentrokan dengan polisi menunjukkan meningkatnya polarisasi sosial di dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *