Gaza, Purna Warta – Otoritas kesehatan Gaza melaporkan kematian seorang bayi baru lahir lagi karena cuaca dingin ekstrem dan tempat berlindung yang tidak memadai.
Meskipun lebih dari tiga bulan sejak gencatan senjata di Jalur Gaza, rezim Israel terus melanggar perjanjian tersebut berulang kali melalui serangan dan pembunuhan yang berkelanjutan, sambil mempertahankan blokade berat di Gaza.
Keluarga-keluarga pengungsi di seluruh Jalur Gaza menghadapi cuaca dingin dan badai yang parah tanpa tempat berlindung yang layak.
Sumber kesehatan Gaza mengumumkan kematian seorang bayi lagi akibat kedinginan, sehingga jumlah bayi baru lahir yang meninggal karena kedinginan musim dingin ini di Gaza menjadi 11.
Dr. Miade Jundie, kepala departemen neonatologi di Rumah Sakit Anak Spesialis Al-Rantisi, menyatakan bahwa seorang bayi berusia 12 hari bernama Haitham Abu Qas meninggal dunia karena cuaca dingin yang ekstrem dan penurunan suhu tubuh yang tajam di dalam tenda tempat keluarganya tinggal.
Jenazah tak bernyawa tersebut dibawa ke rumah sakit.
Ia juga memperingatkan tentang kondisi kehidupan yang mengerikan bagi pengungsi Palestina di tengah cuaca dingin yang ekstrem.
Tidak ada fasilitas pemanas di tenda-tenda yang rusak ini, sehingga situasi tersebut menjadi ancaman langsung bagi kehidupan para pengungsi, terutama bayi baru lahir dan anak-anak.
Pejabat kesehatan Gaza ini menekankan bahwa bayi tidak dapat menahan dingin karena jaringan lemak yang tidak mencukupi, cadangan energi yang sangat rendah, dan tingkat kehilangan panas yang tinggi di tubuh mereka.
Suhu tubuh bayi, terutama di malam hari, turun hingga 31 hingga 33 derajat Celcius.
Hal ini menyebabkan gangguan sirkulasi darah, pembentukan gumpalan kecil, detak jantung tidak teratur, dan akhirnya henti jantung mendadak.
Kepala departemen neonatologi di Rumah Sakit Al-Rantisi lebih lanjut menyatakan: Sebagian besar bayi yang baru-baru ini meninggal karena kedinginan mengalami penurunan suhu tubuh yang parah meskipun keluarga telah berusaha menghangatkan mereka dengan pakaian dan selimut.
Tinggal di tenda yang tidak memiliki isolasi terhadap angin dan kelembapan merupakan faktor kunci yang berkontribusi terhadap bencana kemanusiaan dan kematian akibat kedinginan.
Beralih ke perspektif internasional, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengeluarkan laporan baru yang memperingatkan tentang memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Laporan tersebut menyatakan bahwa karena kerusakan yang meluas di daerah pemukiman dan kekurangan kebutuhan pokok yang parah, lebih dari satu juta orang di Gaza membutuhkan dukungan segera untuk mengakses tempat berlindung.
Badan PBB ini menekankan perlunya solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Gaza, termasuk masuknya peralatan untuk memperbaiki rumah yang rusak, membangun fasilitas pemanas umum, dan peralatan untuk pengumpulan puing-puing.
Meskipun gencatan senjata sementara dan dangkal diberlakukan di Gaza, krisis kemanusiaan di wilayah tersebut semakin memburuk dari hari ke hari.
Ribuan keluarga masih tinggal di tenda nilon dan reruntuhan rumah mereka.
Kekurangan tempat tinggal yang layak, ketiadaan selimut, alat pemanas, dan keterlambatan pengiriman bantuan kemanusiaan telah membuat kondisi sangat berbahaya bagi masyarakat, terutama anak-anak dan bayi baru lahir.
Para ahli kesehatan telah memperingatkan bahwa berlanjutnya cuaca dingin yang parah, dikombinasikan dengan kekurangan gizi dan penyebaran penyakit, dapat meningkatkan jumlah korban dalam beberapa minggu mendatang.
Organisasi bantuan internasional telah menyatakan keprihatinan tentang situasi kritis anak-anak di Gaza dan menyerukan agar bantuan kemanusiaan, bahan bakar, dan peralatan bantuan segera difasilitasi ke wilayah tersebut.
Menurut seorang pekerja bantuan lokal, “Di Gaza, bom bukan lagi satu-satunya penyebab kematian; dingin, kelaparan, dan penyakit perlahan-lahan merenggut nyawa anak-anak.”


