Al-quds, Purna Warta – Seorang bayi Palestina kembali meninggal dunia akibat dinginnya cuaca ekstrem di Jalur Gaza bagian selatan, ketika keluarga-keluarga pengungsi terus menghadapi musim dingin yang keras di tengah dampak perang genosida Israel yang telah berlangsung selama dua tahun.
Youssef Omar Abu Hammala, bayi laki-laki berusia enam bulan, meninggal dunia pada Jumat akibat suhu dingin ekstrem di tenda pengungsian keluarganya di wilayah Al-Mawasi, Khan Yunis. Dengan kematian Abu Hammala, jumlah anak yang meninggal akibat kedinginan ekstrem di Jalur Gaza sejak awal musim dingin kini meningkat menjadi 11 orang.
Sejumlah warga Palestina, mayoritas anak-anak, telah meninggal dunia akibat cuaca dingin yang parah, sementara keluarga-keluarga pengungsi terus bertahan dalam kondisi musim dingin yang keras, diperparah oleh perang genosida dan pengepungan Israel terhadap wilayah sempit tersebut.
Layanan pertahanan sipil dan ambulans menyatakan bahwa suhu rendah sangat berdampak pada anak-anak, lansia, serta mereka yang menderita sakit. Insiden-insiden ini mencerminkan kondisi kemanusiaan yang sangat berbahaya di Jalur Gaza, khususnya bagi anak-anak dan keluarga pengungsi yang tinggal di tenda-tenda rapuh yang tidak layak menghadapi cuaca dingin.
Keluarga-keluarga di Gaza menderita akibat kekurangan tempat tinggal dan layanan medis, serta tidak tersedianya pemanas karena krisis bahan bakar yang disebabkan oleh blokade Israel. Sebagian besar dari lebih dari dua juta penduduk Jalur Gaza telah mengalami pengungsian berulang kali; dinginnya udara dan hujan deras bukan sekadar perubahan musim, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup.
Serangkaian badai musim dingin baru-baru ini menyebabkan banjir luas di wilayah dataran rendah dan kamp-kamp pengungsian. Bagi banyak warga, penderitaan semakin parah akibat runtuhnya bangunan-bangunan yang sebelumnya telah rusak oleh serangan militer. Tanpa alternatif tempat berlindung, banyak keluarga pengungsi terpaksa menempati bangunan yang tidak aman secara struktural, di mana hujan lebat dan angin kencang meningkatkan risiko runtuh mendadak, menjadikannya tempat yang mengancam nyawa alih-alih perlindungan.
Menurut data Kantor Media Pemerintah Gaza, perang genosida Israel telah menyebabkan kehancuran besar-besaran, dengan 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza terdampak.
Serangan Artileri Israel Menghantam Sejumlah Wilayah Gaza
Pasukan Israel pada Jumat kembali melancarkan tembakan artileri dan senjata api di sejumlah wilayah Jalur Gaza, dalam pelanggaran berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata.
Kendaraan militer Israel melepaskan tembakan di wilayah timur Deir al-Balah, sementara artileri menargetkan bagian timur kamp pengungsi al-Bureij di Gaza tengah. Pasukan Israel juga menembaki wilayah timur Khan Yunis di selatan Gaza. Para saksi mata mengonfirmasi adanya tembakan acak dari kendaraan militer Israel di timur Khan Yunis.
Artileri Israel menghantam beberapa lokasi di timur Kota Gaza, di wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel. Serangan tambahan juga dilaporkan terjadi di bagian utara Rafah, yang masih sepenuhnya diduduki pasukan Israel.
Warga Palestina menghadapi kondisi yang semakin memburuk akibat kegagalan Israel memenuhi kewajibannya dalam perjanjian gencatan senjata, yang memasuki fase pertama pada 10 Oktober 2025, termasuk pembukaan perlintasan perbatasan serta masuknya pasokan pangan, bantuan kemanusiaan, medis, dan bahan tempat tinggal sesuai kesepakatan.
Perang brutal Israel telah menewaskan lebih dari 71.500 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 orang sejak Oktober 2023. Sejak gencatan senjata diberlakukan, setidaknya 464 warga Palestina tewas dan hampir 1.280 lainnya terluka akibat serangan Israel.


