Aksi Protes Nasional Merebak di Australia Menentang Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog

Isac

Camberra, Purna warta – Gelombang demonstrasi pecah di berbagai wilayah Australia seiring dimulainya kunjungan resmi Presiden Israel Isaac Herzog. Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di sejumlah kota besar, termasuk Sydney, Melbourne, Canberra, dan Brisbane.

Di Sydney, massa besar berkumpul di kawasan Town Hall. Para demonstran mengibarkan bendera, membawa poster, dan meneriakkan yel-yel yang dipimpin oleh penabuh drum. Aparat kepolisian terlihat berjaga ketat, sementara ketegangan sempat meningkat ketika polisi menghentikan dan menggeledah seorang pengunjuk rasa yang mengenakan pakaian serba hitam.

Insiden tersebut memicu teriakan “ini bukan negara polisi” dari massa. Namun, orang yang bersangkutan segera diizinkan melanjutkan perjalanannya, dan pihak kepolisian tidak memberikan penjelasan terkait penghentian tersebut.

Herzog mengunjungi Australia menyusul serangan teror di Pantai Bondi pada 14 Desember lalu. Ia diundang oleh Gubernur Jenderal dan Perdana Menteri Australia untuk bergabung dengan komunitas Yahudi dalam mengenang para korban.

Penembakan massal tersebut terjadi ketika ratusan orang berkumpul di Pantai Bondi, Sydney, dalam sebuah acara bertajuk Chanukah by the Sea yang menandai dimulainya perayaan hari raya Yahudi. Sedikitnya 15 orang tewas dan 42 lainnya dilarikan ke rumah sakit, termasuk dua petugas kepolisian.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut peristiwa di Bondi sebagai “mengejutkan dan menyedihkan,” seraya menegaskan, “Tidak ada tempat bagi kebencian, kekerasan, dan terorisme di negara kita.”

Meski sejumlah pembicara dalam aksi unjuk rasa menyampaikan solidaritas kepada para korban serangan tersebut, para demonstran menilai Herzog bukanlah sosok yang tepat untuk mempromosikan persatuan.

Di Sydney, polisi memasang barikade untuk mengendalikan jumlah massa di sekitar Town Hall, yang memicu teriakan “biarkan mereka masuk” dari para pengunjuk rasa. Kelompok lain menutup Bathurst Street di dekat lokasi, sehingga arus lalu lintas menyempit menjadi satu jalur dan menyulitkan akses warga yang hendak meninggalkan area tersebut. Sebuah ambulans terlihat berada di lokasi saat polisi berupaya mengatur pergerakan massa di sekitar jalur trem ringan.

Di Canberra, sekitar 500 orang berkumpul di Garema Place, sementara di Melbourne, ratusan demonstran memadati persimpangan di luar Stasiun Flinders Street sambil membawa bendera Palestina.

Teriakan yang menyerukan penangkapan Presiden Israel terdengar di tengah kerumunan besar di Sydney, sementara kepolisian terus membatasi akses ke zona-zona protes dan ketegangan berlangsung sepanjang hari.

Dewan Imam Nasional Australia (Australian National Imams Council/ANIC), Hind Rajab Foundation (HRF), dan Dewan Yahudi Australia sebelumnya telah mengajukan pengaduan kepada Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri, serta Kepolisian Federal Australia. Mereka mendesak otoritas untuk menolak pemberian visa kepada Herzog dan membuka penyelidikan pidana berdasarkan hukum Australia.

Pengaduan tersebut meminta agar Herzog dilarang memasuki Australia serta agar dilakukan penyelidikan atas dugaan keterlibatannya dalam kejahatan perang terhadap warga Palestina.

Pernyataan-pernyataan Herzog yang terdokumentasi secara publik, termasuk ujaran kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan, disebutkan sebagai bukti.

Kelompok-kelompok pro-Palestina juga menyatakan bahwa Herzog telah meremehkan krisis kemanusiaan di Gaza, meskipun temuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi terjadinya kelaparan yang meluas dan penderitaan besar di kalangan warga sipil.

Tahun lalu, Australia menolak masuknya politisi sayap kanan ekstrem Israel, Simcha Rothman, yang menyerukan pembersihan etnis terhadap warga Palestina dan menyebut anak-anak di Gaza sebagai “musuh”.

Sejak gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada Oktober tahun lalu, otoritas Palestina telah mendokumentasikan ratusan pelanggaran, termasuk penembakan, pengeboman, dan serangan terhadap infrastruktur sipil.

Pelanggaran-pelanggaran tersebut telah menewaskan sedikitnya 580 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.500 orang lainnya, sementara jenazah korban masih terus ditemukan dari wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau.

Sejak dimulainya serangan genosida terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023, rezim pendudukan telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *