The Economist: Mengapa Trump Menjadi Pecundang Terbesar Dalam Perang Iran?

Ekonomis

London, Purna Wart a- Menurut laporan majalah The Economist, menulis bahwa operasi militer tidak hanya gagal mencapai tujuan utama perang Trump, tetapi juga mengungkap keterbatasan pandangannya terhadap pendekatan baru kekuatan Amerika.

Majalah Inggris itu menambahkan bahwa dampak perang dengan Iran telah memberikan pengaruh negatif terhadap politik Amerika dan menjadikan Trump sebagai pihak yang paling dirugikan dalam konflik ini. Perang tersebut justru memperkuat posisi Iran, meningkatkan ketidakstabilan di kawasan, serta memperbesar risiko ekonomi dan nuklir.

The Economist juga menyinggung ketidakinginan Trump untuk melanjutkan perang, dan menyatakan bahwa ia terlambat menyadari bahwa perang tersebut seharusnya tidak dimulai. Pernyataan-pernyataan keras dan agresifnya terhadap Iran dinilai sebagai upaya untuk menutupi langkah mundurnya.

Berdasarkan analisis majalah tersebut, dimulainya kembali perang dapat memicu kepanikan di pasar global serta melemahkan narasi sebelumnya yang dikemukakan Trump mengenai “era keemasan” di Timur Tengah.

Laporan ini juga menilai bahwa klaim Trump tentang “kemenangan besar” melalui pelemahan kemampuan militer Iran bersifat ilusif, terutama jika dibandingkan dengan tujuan utama perang, yaitu menggulingkan pemerintahan Iran dan menghentikan secara permanen program nuklir negara tersebut.

Majalah tersebut menambahkan bahwa kemajuan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat terbatas, dan perang justru meningkatkan kerapuhan situasi keamanan di kawasan, alih-alih menciptakan stabilitas.

Menurut laporan itu, Iran kini memiliki alat tekanan baru, termasuk ancaman terhadap negara-negara Teluk, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz, serta upaya untuk mengenakan biaya atas lalu lintas kapal. Meskipun negara-negara Teluk mungkin akan menentang langkah tersebut, potensi eskalasi tetap ada.

The Economist juga menyatakan bahwa negara-negara Teluk kemungkinan akan meninjau ulang strategi keamanan mereka atau justru melanjutkan proses rekonsiliasi dengan Iran.

Selain itu, laporan tersebut menilai bahwa perang ini mengungkap adanya pembesar-besaran terhadap efektivitas kekuatan militer Amerika. Industri militer AS tidak mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan perang, sementara Iran mampu bertahan melalui strategi perang asimetris dengan sumber daya terbatas.

Majalah tersebut menggambarkan keputusan Trump sebagai “tergesa-gesa dan emosional”, serta menilai bahwa pendekatannya terhadap perang sebagai proyek pribadi dan ketergantungannya pada kekuatan militer tanpa mempertimbangkan konsekuensinya secara matang menunjukkan kelemahan dalam strategi. Sebab, kekuatan semata tidak memberikan legitimasi, dan bahkan tidak menjamin kemenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *