Menlu Spanyol Kecam Klaim Netanyahu soal Negara Palestina

Spain z

Madrid, Purna Warta – Menteri Luar Negeri (Menlu) Spanyol José Manuel Albares mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas pernyataannya yang menegaskan bahwa negara Palestina tidak akan pernah terbentuk.

Baca juga: Bagi Rakyat Palestina di Bawah Gempuran, Pengakuan Negara Bukanlah Kemerdekaan

Dalam wawancara dengan Associated Press, Senin, Albares menekankan pengakuan internasional yang semakin luas terhadap Palestina, dengan menyebut adanya “gelombang nyata” negara-negara yang mengakui kenegaraan Palestina sejak Spanyol, Irlandia, dan Norwegia melakukannya pada Mei 2024.

“Hari ketika semua orang mengakui negara Palestina, kita harus melangkah maju,” ujar Albares dalam pertemuan PBB.

Menlu Spanyol itu menyampaikan optimisme bahwa akan muncul para pemimpin tepat dari kedua pihak yang mampu mewujudkan perdamaian di tengah perang Israel yang terus berlangsung terhadap bangsa Palestina.

Spanyol tampil sebagai suara lantang yang menyerukan diakhirinya genosida di Gaza. Albares mengecam “kekejaman” dan “pembunuhan tanpa henti” yang terjadi di Gaza, sambil menegaskan posisi Spanyol bahwa baik Israel maupun Palestina memiliki hak untuk hidup damai dan aman.

Israel melancarkan kampanye genosidanya di Gaza sejak 7 Oktober 2023, setelah gerakan perlawanan Palestina Hamas melaksanakan Operasi Banjir Al-Aqsa sebagai balasan atas kejahatan rezim yang semakin brutal terhadap rakyat Palestina. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga kini rezim telah membunuh sedikitnya 65.300 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Selain korban jiwa, Gaza juga menghadapi kelaparan massal akibat blokade Israel yang dengan sengaja menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan.

Upaya diplomatik Spanyol belakangan ini termasuk memberikan tekanan kuat pada Israel untuk menghentikan perang, terutama dalam Sidang Majelis Umum PBB, di mana sejumlah negara baru turut mengakui Palestina, melengkapi daftar panjang negara-negara yang sudah melakukannya.

Meskipun Netanyahu bersikeras menolak pembentukan negara Palestina, negara-negara seperti Prancis, Luksemburg, dan Belgia baru-baru ini mengakui kenegaraan Palestina.

Baca juga: Raksasa Teknologi Pro-Israel Ambil Alih Algoritme TikTok AS untuk Sensor Genosida Gaza

Ketegangan semakin meningkat setelah Netanyahu menuduh Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengeluarkan “ancaman genosida terang-terangan” karena menyebut perang di Gaza sebagai sebuah “genosida.”

Genosida yang terus berlangsung di Gaza juga memicu gelombang protes di Spanyol. Sánchez bahkan menyerukan agar Israel dilarang mengikuti ajang olahraga internasional. Sikap ini kemudian dituding Israel sebagai bentuk antisemitisme pemerintah Spanyol.

Albares menegaskan bahwa kritik keras Spanyol terhadap genosida Israel berakar pada komitmen negara itu terhadap hak asasi manusia. “Kami tidak bisa menerima bahwa cara alami bagi rakyat Timur Tengah untuk berhubungan adalah melalui perang dan kekerasan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya aspek kemanusiaan, dengan menegaskan bahwa penderitaan para pengungsi tidak bisa dibiarkan berlangsung tanpa akhir.

Dalam isu geopolitik yang lebih luas, Albares membela keputusan Spanyol untuk tidak tunduk pada desakan Presiden AS Donald Trump agar negara anggota NATO mengalokasikan 5% PDB untuk pertahanan. Ia menegaskan kembali komitmen Spanyol untuk memenuhi target NATO dengan anggaran 2,1%, sambil menekankan kontribusi besar Spanyol bagi keamanan Eropa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *