Bagi Rakyat Palestina di Bawah Gempuran, Pengakuan Negara Bukanlah Kemerdekaan

DUber Palestina

London, Purna Warta – “Momen ini bukan hanya tentang Palestina, tetapi juga tentang Inggris dan tanggung jawab suci pemerintah Inggris. Ini tentang mengakhiri penyangkalan atas hak tak terbantahkan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan dan menentukan nasib sendiri, serta pengakuan terhadap sebuah ketidakadilan historis,”
— Husam Zomlot, Duta Besar Palestina untuk Inggris

Baca juga: Raksasa Teknologi Pro-Israel Ambil Alih Algoritme TikTok AS untuk Sensor Genosida Gaza

Di luar misi Palestina di London, sejarah tercipta: bendera ikonik Palestina dikibarkan, didahului pidato penuh semangat dari sang duta besar, didampingi para politisi Inggris.

Upacara ini berlangsung setelah Inggris secara resmi mengakui Palestina sebagai negara merdeka, sejajar dengan lebih dari 140 negara lainnya di dunia. Kini, gedung perwakilan Palestina di London resmi berstatus sebagai Kedutaan Besar Palestina, dan untuk pertama kalinya bendera negara itu berkibar sejak pengakuan Inggris.

Para peserta menyebutnya sebagai momen simbolis namun kuat, menegaskan perjuangan panjang sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun, di balik simbolisme itu, muncul pertanyaan besar:

Dengan genosida yang terus berlangsung di Gaza, Tepi Barat masih diduduki, dan Inggris tetap menjual senjata ke Israel — apakah pengakuan ini benar-benar berarti?

“Pemerintah Inggris yang mengakui Palestina juga memikul tanggung jawab: tidak lagi memasok senjata ke Israel, tidak berbagi informasi militer, dan memenuhi tuntutan — yang akan kami tekankan dengan keras — berupa sanksi ekonomi penuh terhadap Israel, termasuk embargo perdagangan total, hingga pendudukan berakhir.”
— Jeremy Corbyn, Anggota Parlemen Inggris

Menjelang pengumuman pengakuan, sebuah jajak pendapat YouGov menemukan kurang dari separuh warga Inggris mendukung langkah tersebut.

“Saya bisa memahami skeptisisme dengan sejarah kawasan ini. Namun peran saya sebagai anggota parlemen, bersama orang-orang baik negeri ini, adalah memastikan agar posisi baru ini dimanfaatkan untuk melangkah ke tahap berikutnya.”
— Shockat Adam, Anggota Parlemen Inggris

Baca juga: Pasukan Israel Bunuh 22 Warga Palestina Lagi, Termasuk Anak-Anak, di Gaza

Di saat yang sama, muncul suara lain di Inggris, seperti dalam sebuah debat di Birmingham, yang menilai meski pengakuan ini sudah lama ditunggu, jalan ke depan bukanlah solusi dua negara, melainkan satu negara.

“Usulan dua negara jelas merupakan narasi Zionis. Itu dirancang untuk menunda tanpa akhir, agar ide itu tidak pernah benar-benar terwujud.”
— Chris Williamson, Politisi Inggris

Bagi para pendukung, hari ini adalah tentang harapan, solidaritas, dan legitimasi internasional. Namun, bagi rakyat Palestina yang hidup di bawah bombardir, ini menjadi pengingat: pengakuan semata bukanlah pembebasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *