Beijing, Purna Warta – Sebuah dana investasi China mengungkapkan bahwa pemerintah Beijing melarang semua investasi baru di wilayah yang diduduki Israel, sebagai respons terhadap agresi brutal rezim Israel terhadap Jalur Gaza yang terkepung.
Baca juga: Human Rights Watch: Kejahatan Perang dan Anti-Kemanusiaan Israel Tak Tertandingi
Berita ini muncul di media Israel di tengah gugatan yang diajukan oleh anggota Kibbutz Hanita terhadap Ballet Vision, sebuah dana yang dikendalikan China dan memiliki 80 persen saham Hanita Lenses, pabrik lensa intraokular yang terletak di bagian utara wilayah yang diduduki dekat perbatasan Lebanon.
Warga permukiman dari kibbutz tersebut mengajukan gugatan di pengadilan distrik Tel Aviv senilai sekitar $11 juta, menuduh dana tersebut gagal menggunakan opsi untuk membeli sisa saham mereka, sesuai perjanjian sebelumnya.
Dalam surat tanggapan dari Ballet yang dilampirkan pada gugatan, disebutkan bahwa pemerintah China mengklasifikasikan wilayah yang diduduki Israel sebagai “area risiko tinggi” atau “kategori merah” karena situasi yang terus berlangsung di wilayah Asia Barat, khususnya sejak 7 Oktober 2023.
“Sejak pecahnya pertempuran, pemerintah China telah mengklasifikasikan Israel sebagai zona risiko tinggi (kategori merah) dan melarang investasi baru China di wilayah yang diduduki Israel,” bunyi surat tersebut.
Surat itu menambahkan bahwa hingga larangan dicabut, transaksi tidak dapat dilakukan, dan menegaskan:
“Selama larangan ini tetap berlaku, tidak ada kemampuan operasional praktis untuk menggunakan opsi tersebut.”
Selain larangan pemerintah China terhadap investasi, Ballet menyatakan bahwa Hanita Lenses mengalami kerugian operasional signifikan.
Liu Yuxiao, direktur Ballet Vision dan CEO pabrik lensa tersebut, sebelumnya mengatakan bahwa Hanita Lenses menanggung kerugian sekitar $15 juta dalam tiga tahun terakhir, serta memiliki utang $4 juta, sehingga menimbulkan masalah finansial serius. Liu Yuxiao menyebutkan bahwa ia menjadi CEO pada Maret tahun lalu untuk mencegah kebangkrutan total, dan menambahkan bahwa perusahaan diperkirakan mampu impas pada 2026.
Perkembangan ini terjadi di tengah memburuknya hubungan antara China dan Israel terkait pulau Taiwan, yang berupaya meningkatkan kerja sama militer dengan Israel. China telah memperingatkan Israel agar tidak memberikan keahlian dan teknologi militer ke Taiwan, meski dengan dalih program sipil.
Baca juga: Hamas: Pembunuhan Tahanan Palestina yang Baru Dibebaskan Menunjukkan Ketakutan Zionis
Laporan menyebutkan bahwa Tel Aviv membantu Taipei dalam mengintegrasikan elemen sistem Green Pine dan Arrow untuk mengembangkan sistem rudal Tian Gong-4, yang akan menjadi bagian dari jaringan T-Dome.
Kerja sama militer ini terjadi meski China terus memperingatkan Israel agar tidak menjalin hubungan militer dengan Taiwan, yang dianggapnya sebagai provinsi yang memberontak. Taiwan sendiri ingin memperdalam hubungan dengan Israel, dan pemerintahnya tidak mengecam kejahatan rezim Tel Aviv di Jalur Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki.


