Trump Ancam Mitra Dagang Iran dengan Tarif 25 Persen

Trump Ancam Mitra Dagang Iran dengan Tarif 25 Persen

New York, Purna Warta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap seluruh transaksi perdagangan dengan Amerika Serikat bagi negara mana pun yang tetap menjalankan bisnis dengan Iran. Kebijakan tersebut menandai langkah terbaru Washington untuk menekan mitra dagang global agar memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.

Dalam pernyataan yang diunggah di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kebijakan tersebut berlaku segera dan bersifat mengikat. Ia menegaskan bahwa setiap negara yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25 persen atas seluruh kegiatan perdagangan dengan Amerika Serikat, serta menyebut keputusan itu sebagai “final dan konklusif.”

Langkah tersebut dipandang sebagai upaya baru untuk mengisolasi Iran secara ekonomi, dengan memberi tekanan langsung kepada negara-negara mitra agar menghentikan kerja sama atau menghadapi konsekuensi finansial. Kebijakan ini sejalan dengan rangkaian sanksi yang sebelumnya diberlakukan selama masa kepresidenan Trump, yang menargetkan ekspor minyak Iran, transaksi keuangan, serta jaringan perdagangannya.

China Tolak Sanksi Sepihak

Menanggapi langkah Trump tersebut, China menyatakan penolakannya terhadap apa yang disebut sebagai sanksi sepihak ilegal dan penerapan yurisdiksi lintas batas secara sewenang-wenang.

Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyatakan melalui platform X bahwa posisi Beijing menentang penerapan tarif secara sembarangan bersifat konsisten dan tegas. Ia menegaskan bahwa perang tarif dan perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang, serta tekanan dan pemaksaan tidak dapat menyelesaikan masalah.

China juga menegaskan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sahnya, sembari menolak sanksi sepihak dan kebijakan yang dinilai melampaui kewenangan hukum internasional.

Ancaman Aksi Militer

Selain tekanan ekonomi, Washington juga melontarkan ancaman aksi militer terhadap Iran. Trump memperingatkan kemungkinan serangan yang ia sebut “belum pernah terjadi sebelumnya,” sembari mengklaim memiliki berbagai opsi yang sangat destruktif.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat akan menghantam Iran pada tingkat yang “tidak pernah mereka alami sebelumnya,” dan bahwa dampaknya akan sulit dipercaya oleh pihak Teheran.

Di tengah retorika tersebut, Iran kembali menegaskan komitmennya pada diplomasi dan dialog, serta upaya menjaga jalur komunikasi guna menghindari konflik di kawasan. Sikap ini, menurut pejabat Iran, kerap diabaikan Washington yang dinilai lebih memilih pendekatan konfrontatif.

Sementara itu, di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, sejumlah anggota parlemen menyuarakan keraguan dan penolakan terhadap opsi militer. Mereka mempertanyakan apakah serangan terhadap Iran benar-benar sejalan dengan kepentingan strategis Washington. Kekhawatiran juga muncul dari kalangan militer AS bahwa aksi semacam itu justru dapat berbalik merugikan, baik dengan memperkuat dukungan publik terhadap pemerintah Iran maupun memicu serangan balasan terhadap pasukan dan fasilitas diplomatik Amerika Serikat di kawasan. Laporan New York Times menyebutkan bahwa sejumlah komandan senior lebih memilih tambahan waktu untuk memperkuat pertahanan dan menata ulang aset militer.

Teheran Tuding AS dan Israel Eksploitasi Kerusuhan

Kebijakan dan ancaman terbaru ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Iran, yang belakangan diwarnai kerusuhan bersenjata yang menurut otoritas setempat dipicu oleh campur tangan asing. Aksi kekerasan tersebut menyasar warga sipil dan aparat keamanan, serta memicu bentrokan di sejumlah wilayah.

Pejabat Iran menolak narasi Amerika Serikat dan Israel yang menggambarkan situasi tersebut sebagai pemberontakan spontan yang memerlukan “bantuan” asing. Teheran justru menuding Washington dan “Israel” aktif mendorong kekacauan sebagai bagian dari agenda destabilisasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihak-pihak yang memicu kekerasan dengan anggapan akan lolos dari pertanggungjawaban pada akhirnya akan menghadapi konsekuensi. Ia juga menyinggung pernyataan terbuka sejumlah pejabat AS yang dinilai mendorong kerusuhan, serta memperingatkan bahwa protes ekonomi telah secara sengaja dibajak oleh kelompok terorganisasi dan bersenjata.

Iran telah membawa isu tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam surat resmi kepada PBB, Teheran menuduh Amerika Serikat dan “Israel” melakukan tindakan berkelanjutan yang melanggar hukum, termasuk penghasutan, perang psikologis, serta koordinasi dengan kelompok-kelompok yang berupaya mengubah aksi protes menjadi kekerasan. Iran menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar Piagam PBB dan mengancam stabilitas kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *