Tahanan Israel-Amerika yang Dibebaskan Umumkan Kembali ke Militer untuk Lanjutkan Perang Genosida di Gaza

iSrael z

Al-Quds, Purna Warta – Mantan tahanan Israel-Amerika, Edan Alexander, mengumumkan akan kembali bergabung dengan militer Israel untuk ambil bagian dalam perang genosida yang terus berlangsung di Jalur Gaza, yang telah merenggut puluhan ribu nyawa warga sipil tak berdosa.

Baca juga: Menlu Palestina Serukan Lebih Banyak Negara Akui Kemerdekaan Palestina

Alexander, warga dengan kewarganegaraan ganda AS-Israel yang dibebaskan oleh kelompok perlawanan Hamas berbasis di Gaza pada Mei lalu, menyatakan bahwa “mengabdi di militer rezim adalah salah satu kehormatan terbesar dalam hidup saya” saat berbicara dalam sebuah acara Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Amerika Serikat awal pekan ini.

“Bulan depan saya akan kembali ke Israel dan sekali lagi mengenakan seragam [tentara Israel], dengan bangga bertugas bersama saudara-saudara saya. Kisah saya tidak berakhir dengan bertahan hidup – kisah saya berlanjut dengan pengabdian. Hingga kemenangan,” ujar Alexander dalam acara FIDF di New York.

FIDF, lembaga amal berbasis di AS yang mendukung tentara Israel, terlibat dalam penggalangan dana untuk pasokan medis darurat dan perawatan kesehatan mental bagi warga Israel yang terluka di wilayah Palestina yang diduduki.

Tahanan Israel-Amerika itu mengisahkan: “Saya ditawan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023. Hari itu saya berperang bersama saudara seperjuangan melawan Hamas… Saya ditahan selama 584 hari.”

Ia juga menyerukan agar Amerika Serikat menekan kabinet Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan negosiasi mengenai kesepakatan gencatan senjata di Gaza serta perjanjian pertukaran tahanan.

Alexander dibebaskan sebagai bagian dari langkah goodwill Hamas untuk mendorong pembicaraan gencatan senjata dan pertukaran tahanan, sekaligus membuka jalur bagi bantuan kemanusiaan mendesak ke wilayah Gaza yang diblokade.

Israel melancarkan perang genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, usai kelompok pimpinan Hamas melaksanakan Operasi Badai al-Aqsa sebagai balasan atas meningkatnya kejahatan rezim terhadap rakyat Palestina.

Dalam operasi bersejarah itu, Hamas menawan 251 orang Israel, di mana 58 masih berada di Gaza hingga kini — termasuk jasad sedikitnya 35 orang yang telah dikonfirmasi tewas oleh militer pendudukan, dan sekitar 20 lainnya diyakini masih hidup.

Baca juga: Israel Lakukan Serangan Darat Baru ke Selatan Suriah Meski Ada Pembicaraan dengan HTS

Keluarga para tawanan berulang kali memperingatkan bahwa genosida yang terus dijalankan Israel di Gaza membahayakan mereka yang masih dalam penawanan, serta menyerukan penghentian agresi rezim dan tercapainya “kesepakatan komprehensif” untuk menjamin pembebasan segera.

Pada Januari lalu, kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas sempat menghasilkan pembebasan sejumlah tawanan Israel serta warga Palestina yang ditahan secara ilegal di penjara rezim. Namun, Israel menolak memperpanjang gencatan seperti yang direncanakan, justru meningkatkan serangan militer dan menghancurkan gencatan yang berlangsung selama dua bulan itu.

Sejauh ini, puluhan tawanan telah tewas akibat serangan brutal Israel di Gaza, sementara kebijakan kelaparan yang dipaksakan rezim semakin memperburuk kondisi bagi mereka yang masih ditahan.

Serangan militer Israel yang berdarah di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 65.200 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai sekitar 167.000 orang lainnya. Ribuan korban juga dikhawatirkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, tak bisa dijangkau tim penyelamat akibat gempuran tanpa henti rezim Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *