Seorang Pejabat Senior Kongres Meminta agar Dilakukan Tes Kognitif terhadap Donald Trump

Test

Washington, Purna Warta – Menurut laporan situs Axios menulis bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya lebih luas Partai Demokrat untuk mengaktifkan Amandemen ke-25 Konstitusi Amerika Serikat, yang memungkinkan pencopotan presiden karena “ketidakmampuan menjalankan kekuasaan dan tugasnya.”

Berdasarkan laporan tersebut, perilaku, pikiran, dan preferensi manusia dipengaruhi oleh struktur dan jalur saraf yang berbeda pada setiap individu. Tes psikologi neurokognitif digunakan untuk menguji dan mengukur fungsi kognitif seseorang.

Dalam suratnya kepada Sean Barbabella, Raskin menekankan perlunya “melakukan evaluasi komprehensif psikologi neurokognitif terhadap Presiden Amerika Serikat dan mempublikasikan hasilnya secara terbuka.”

Politikus Demokrat dari negara bagian Maryland tersebut menyatakan bahwa permintaan terbaru Trump untuk “membuka Selat Hormuz” dengan menggunakan kata-kata kasar serta ancaman “menghancurkan peradaban Iran” berada di luar norma politik yang lazim.

Ia menulis dalam surat tersebut: “Kita tanpa ragu telah memasuki wilayah persoalan medis yang kompleks dan menimbulkan kekhawatiran serius.”

Selain tes kognitif, Raskin juga meminta laporan rinci mengenai kondisi kesehatan fisik dan mental Presiden AS, termasuk daftar “setiap perawatan medis dan kemungkinan dampak kognitifnya.”

Surat tersebut dikirim menjelang pertemuan Raskin dengan anggota Demokrat lainnya di DPR AS untuk membahas kemungkinan pengaktifan Amandemen ke-25.

Sebelumnya, Jim McGovern juga menyebut Trump sebagai “orang dengan gangguan mental” dan menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melemahkan hukum internasional.

Anggota DPR dari negara bagian Massachusetts itu menambahkan bahwa para pakar hukum hak asasi manusia internasional telah membunyikan alarm terkait perilaku Amerika Serikat terhadap Iran, termasuk dugaan pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa dan hukum internasional hingga tingkat kejahatan perang.

Dalam pernyataan-pernyataannya terhadap Iran di media sosial, Trump juga disebut menggunakan bahasa yang kasar dan menghina, yang memicu reaksi serta kecaman luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *