Selebritas Tuduh “Israel” Lumpuhkan Sistem Kesehatan Gaza

Selebritas Tuduh “Israel” Lumpuhkan Sistem Kesehatan Gaza

New York, Purna Warta Puluhan seniman bergabung dengan dokter, pegiat hak asasi manusia, dan organisasi kemanusiaan menyerukan pemulihan segera layanan kesehatan di Gaza. Mereka memperingatkan bahwa serangan “Israel” telah secara sistematis menghancurkan sistem kesehatan di wilayah tersebut, demikian dilaporkan The Guardian.

Dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada pemerintah “Israel” dan para pemimpin dunia—dan dibagikan secara eksklusif kepada The Guardian—para penandatangan, termasuk Cynthia Nixon, Mark Ruffalo, dan Ilana Glazer, menuduh “Israel” menargetkan rumah sakit sambil memberlakukan blokade yang membuat infrastruktur medis Gaza runtuh.

“Serangan sistematis terhadap rumah sakit dan blokade ilegal telah menyebabkan runtuhnya sistem kesehatan Gaza,” demikian bunyi surat tersebut. Disebutkan pula bahwa melalui kebijakan dan aktivitas militernya, pemerintah “Israel” secara sengaja menciptakan kondisi kehidupan yang mengarah pada kehancuran warga Palestina di Gaza, sekaligus menutup akses terhadap bantuan yang dapat menyelamatkan nyawa.

Kasus Hind Rajab Jadi Sorotan

Seruan ini dipimpin oleh Wesam Hamada, ibu dari Hind Rajab, bocah perempuan berusia lima tahun asal Kota Gaza yang tewas pada Januari 2024 akibat tembakan Israel saat menunggu paramedis. Ambulans yang dikirim untuk menolongnya juga dilaporkan ditembaki, menurut keterangan kelompok HAM.

Kisah Hind kemudian diabadikan dalam film The Voice of Hind Rajab karya sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania, yang masuk daftar pendek nominasi Academy Award.

“Hind Rajab tidak meninggal karena bantuan mustahil diberikan, tetapi karena bantuan itu ditolak,” ujar Ben Hania kepada The Guardian. Ia menandatangani surat tersebut bersama Hamada sebagai bagian dari kampanye yang dikoordinasikan sejumlah organisasi nirlaba.

Koalisi Budaya dan Medis

Penandatangan lainnya termasuk Brian Eno, Rosie O’Donnell, dan Morgan Spector, serta organisasi HAM Israel B’Tselem dan Physicians for Human Rights. Para penyelenggara menyatakan surat itu akan disampaikan kepada pejabat Inggris dan Uni Eropa dalam pertemuan parlemen pekan ini.

Salah satu tuntutan utama adalah “akses kemanusiaan yang segera, tanpa syarat, tanpa hambatan, dan berkelanjutan ke Palestina,” termasuk masuknya tenaga medis dan pekerja bantuan.

Seruan tersebut muncul di tengah keputusan terbaru “Israel” yang melarang puluhan lembaga kemanusiaan beroperasi di Gaza dan Tepi Barat, termasuk Médecins Sans Frontières (MSF). MSF menyebut mereka menopang sekitar satu dari lima tempat tidur rumah sakit di Gaza dan membantu satu dari tiga ibu saat persalinan.

Kerusakan Meluas dan Korban Terus Bertambah

Menurut Kantor HAM PBB, 94 persen rumah sakit di Gaza telah rusak atau hancur sejak serangan “Israel” dimulai pada 2023. Sedikitnya 1.722 tenaga kesehatan dilaporkan tewas selama dua tahun perang, sementara peralatan medis esensial—seperti kursi roda dan alat bantu jalan—dilarang masuk ke wilayah tersebut.

Panel pakar PBB menggambarkan serangan terhadap sektor kesehatan Gaza sebagai “medisida,” yakni penghancuran sistematis layanan medis, yang oleh sejumlah pakar hukum dipandang sebagai bagian dari genosida.

Evakuasi Medis Terhambat

Surat tersebut mendesak para pemimpin dunia untuk segera memulihkan akses layanan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat, di mana pembatasan pergerakan yang kian ketat semakin mempersempit layanan medis.

Menurut estimasi MSF pada Desember, lebih dari 18.500 warga Palestina masih membutuhkan evakuasi medis dari Gaza. Organisasi itu menyebut sedikitnya 1.000 orang telah meninggal dunia saat menunggu perawatan.

Dr. Thaer Gazawneh, dokter gawat darurat yang berbasis di Chicago dan turut menandatangani surat, menilai kebijakan “Israel” bertujuan membuat kehidupan di Gaza tak tertahankan.

“Mereka menciptakan kondisi hidup yang begitu berat sehingga orang-orang akan dipaksa mengungsi lagi,” ujarnya. Gazawneh, yang juga menjadi relawan di Tepi Barat, menyebut respons medis darurat di wilayah itu kian sulit akibat pos pemeriksaan dan risiko penahanan sewenang-wenang. Laporan Healthcare Workers Watch mencatat sedikitnya 384 tenaga medis telah ditahan secara tidak sah oleh pasukan pendudukan Israel.

Seruan Moral

Bagi Ilana Glazer, penolakan akses medis mencerminkan kegagalan moral yang lebih luas.

“Seruan akses medis ini mendesak karena perawatan kesehatan adalah batas minimum kemanusiaan. Ketika itu pun diblokade, setiap orang di dunia berisiko diperlakukan sebagai bukan manusia,” ujarnya.

Bagi Hamada, kampanye ini bersifat sangat personal. Ia mengenang putrinya yang bercita-cita menjadi dokter.

“Hind tidak pernah memilih mainan biasa seperti anak-anak lain. Ia selalu memilih mainan dokter: stetoskop, suntikan plastik, kotak P3K kecil,” katanya.

“Ia merawat bonekanya dan berjanji semuanya akan baik-baik saja. Kini mimpi Hind bukan lagi menjadi dokter, melainkan agar anak-anak Gaza menemukan dokter, rumah sakit, obat-obatan, dan rasa aman.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *