Raksasa Teknologi Pro-Israel Ambil Alih Algoritme TikTok AS untuk Sensor Genosida Gaza

Tiktok

Washington, Purna Warta – Sebuah raksasa teknologi Amerika pro-Israel dilaporkan akan menangani keamanan data sekaligus membangun ulang algoritme untuk versi baru TikTok di Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya menyensor laporan terkait genosida yang dilakukan rezim pendudukan terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza yang terkepung.

Baca juga: Pasukan Israel Bunuh 22 Warga Palestina Lagi, Termasuk Anak-Anak, di Gaza

Langkah ini menyusul rencana penjualan aplikasi media sosial populer milik Tiongkok tersebut kepada investor AS. Media keuangan Bloomberg mengutip seorang pejabat Gedung Putih pada Senin (22/9), yang menyebut kesepakatan dengan Oracle Corp. bertujuan memastikan kendali AS atas algoritme TikTok, yang menentukan video apa saja yang direkomendasikan dan muncul di beranda pengguna AS.

Dalam rancangan perjanjian, pemilik TikTok berbasis di AS akan menyewa salinan algoritme dari perusahaan induk ByteDance Ltd. yang berbasis di Beijing. Oracle kemudian akan melatih ulang algoritme tersebut “dari nol,” menurut pejabat itu.

“Data pengguna AS akan disimpan di cloud aman yang dikelola Oracle, dengan kontrol untuk mencegah akses dari musuh asing, termasuk Tiongkok,” ujar pejabat itu, seperti dikutip Bloomberg.
“ByteDance tidak akan memiliki akses terhadap data pengguna TikTok di AS, maupun kendali atas algoritmenya.”

Pejabat Gedung Putih itu menegaskan, “Oracle, sebagai mitra keamanan AS, akan mengoperasikan, melatih ulang, dan secara berkelanjutan memantau algoritme AS untuk memastikan konten terbebas dari manipulasi maupun pengawasan yang tidak semestinya.”

Oracle, raksasa teknologi pro-Israel yang bermarkas di Austin dan dikendalikan pendirinya Larry Ellison, sebelumnya sudah menyediakan layanan cloud bagi TikTok dan mengelola data pengguna di AS serta negara lain melalui kemitraan bernilai miliaran dolar bernama Project Texas.

Ellison dikenal sebagai salah satu tokoh Silicon Valley yang paling pro-Israel. Ia tercatat menyumbang dana besar kepada organisasi “Friends of the Israel Defense Forces (FIDF),” yang mendukung tentara pendudukan Israel, termasuk dalam pembiayaan pasokan medis darurat dan layanan kesehatan mental bagi korban perang di Gaza.

Baca juga: Jihad Islami: AS dan Barat Tidak Menginginkan Gencatan Senjata di Gaza

Setelah dimulainya genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023, Ellison berjanji memberikan dukungan Oracle berupa infrastruktur cloud dan keamanan siber bagi rezim pendudukan, menegaskan komitmennya terhadap sektor militer dan teknologi Israel.

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) menuduh perusahaan-perusahaan teknologi AS, termasuk Microsoft, Amazon, Google, Cisco, Oracle, dan IBM, “sangat terlibat dalam kejahatan (termasuk apartheid dan genosida)” karena menyediakan infrastruktur cloud dan teknologi AI bagi militer Israel.

Perusahaan media sosial, termasuk TikTok, juga diketahui mempekerjakan banyak mantan perwira intelijen Israel dari Unit 8200. Rezim Israel secara aktif melobi perusahaan-perusahaan media sosial untuk menghapus konten pro-Palestina, memberi Tel Aviv pengaruh besar atas keputusan sensor di platform utama AS.

Pada 2024, Kongres AS mengesahkan undang-undang “TikTok divest-or-ban” setelah kelompok lobi Yahudi keberatan dengan meningkatnya jumlah pemuda Amerika yang menonton dan membagikan video pembantaian massal warga sipil Palestina di Gaza oleh Israel.

Akses TikTok sempat diblokir bagi pengguna AS pada Januari, saat larangan itu mulai berlaku. Namun, Presiden Donald Trump memberikan perpanjangan waktu untuk tercapainya kesepakatan, sehingga akses kembali dibuka hanya sehari kemudian.

Langkah ini muncul ketika rezim Israel terus melanjutkan penindasan sistematis terhadap rakyat Palestina, memperparah krisis kemanusiaan di Gaza, dan melancarkan invasi darat berskala penuh di seluruh wilayah tersebut.

Gambar dan video mengerikan yang memperlihatkan anak-anak kelaparan, serangan bom tanpa henti, serta kehancuran besar-besaran terus bermunculan di media sosial, menyingkap kondisi memilukan yang dihadapi rakyat Palestina.

Dengan dukungan penuh AS, Israel melancarkan serangan ke Gaza pada 7 Oktober 2023, setelah pejuang perlawanan Palestina melancarkan Operasi Banjir al-Aqsa sebagai respons atas puluhan tahun pembantaian dan perusakan yang dilakukan rezim Zionis.

Militer Israel sejauh ini telah membunuh lebih dari 65.300 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Ribuan korban lainnya dikhawatirkan masih terjebak di bawah reruntuhan, tak dapat dijangkau tim darurat akibat serangan Israel yang terus berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *