Pelapor Khusus PBB Nyatakan Dukungan untuk Armada Gaza, Sebut Aktivis sebagai ‘Pejuang Moral’

UNx

New York, Purna Warta – Dalam sebuah unggahan di media sosial, Pelapor Khusus PBB, Albanese menyebut para aktivis yang ikut serta dalam perjalanan ini sebagai “pejuang moral.” Ia juga mengecam sikap diam komunitas internasional terhadap perang genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Baca juga: Beberapa Indikator Kunci Krisis Besar Israel

“Forza Sumud Flotilla: kalian adalah pejuang moral, di saat negara-negara tetap pasif. Dan berkompromi. Saya bersama kalian, bersama semua yang berdiri untuk keadilan, hak asasi manusia, dan martabat. Kita membangun perdamaian dengan perdamaian, bukan dengan senjata. Gaza tidak sendirian,” tulisnya di platform X.

Armada kapal tersebut berangkat dari Barcelona, Spanyol, sebagai bagian dari inisiatif maritim internasional yang bertujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza yang kelaparan akibat blokade berkepanjangan. Ribuan orang hadir menunjukkan solidaritas dengan Gaza dan memberi dukungan kepada para peserta misi tersebut.

Sebelumnya, para aktivis yang ikut serta dalam armada ini menggelar konferensi pers.
“Cerita di sini adalah tentang Palestina. Tentang bagaimana rakyat secara sengaja dibiarkan tanpa kebutuhan dasar untuk bertahan hidup,” ujar aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, di Barcelona.

Pelapor Khusus PBB itu menegaskan, “Israel sangat jelas dengan niat genosidanya. Mereka ingin menghapus bangsa Palestina, mereka ingin mengambil alih Jalur Gaza.” Thunberg juga menuding politisi dan pemerintah gagal menegakkan hukum internasional.

“Mereka gagal melakukan tugas hukum paling dasar: bertindak, mencegah genosida, menghentikan keterlibatan dan dukungan terhadap pendudukan serta genosida rakyat Palestina,” tambahnya.

Sementara itu, aktivis Palestina yang berbasis di Barcelona, Saif Abukeshek, mengecam pembersihan etnis terhadap rakyat Gaza.
“Rakyat Palestina sedang dibiarkan mati kelaparan karena ada pemerintah yang secara sengaja menjadikan kelaparan sebagai senjata,” ujarnya.

“Ada pemerintah yang setiap hari sengaja membom anak-anak dan keluarga Palestina untuk membunuh sebanyak mungkin orang. Ketika rumah sakit, sekolah, dan pusat pendidikan dibom, tujuan utamanya jelas: mengakhiri keberadaan rakyat Palestina,” imbuh Abukeshek.

Menurut penyelenggara, armada tersebut melibatkan delegasi dari 44 negara dan akan bergabung dengan kapal lain dari pelabuhan di Italia, Yunani, dan Tunisia dalam beberapa hari ke depan, dalam perjalanannya dari Mediterania barat menuju Gaza.

Baca juga: Profesor Hukum Internasional: Gugatan Genosida terhadap Tel Aviv adalah Kasus Terkuat dalam Sejarah

Armada ini bertujuan menembus blokade Israel dan menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, air, serta obat-obatan ke Gaza di tengah ofensif Israel yang semakin intensif di Kota Gaza.

Otoritas Israel sebelumnya berulang kali menggagalkan upaya serupa dengan mencegat kapal, menahan para peserta, kemudian mendeportasi mereka.
Upaya freedom flotilla telah berulang kali dilakukan dalam 15 tahun terakhir. Pada 2010, pasukan Israel menyerbu Freedom Flotilla yang termasuk kapal Turki Mavi Marmara, dan menewaskan 10 aktivis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *